PostHeaderIcon respon organisme akuatik terhadap lingkungan

I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Organisme akuatik memerlukan lingkungan untuk melangsungkan kehidupannya dan tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Lingkungan hidup organisme akuatik selalu mengalami perubahan yang berfluktuasi yang disebabkan oleh lingkungan itu sendiri ataupun akibat dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Beberapa variabel lingkungan (fisika-kimia) yang dapat berubah dari waktu ke waktu contohnya seperti suhu, pH, salinitas, deterjen dan kekeruhan. Perubahan kondisi lingkungan tersebut dapat berubah secara harian, musiman, ataupun secara tiba-tiba baik secara disengaja ataupun tidak. Hal tersebut dapat mempengaruhi kehidupan organisme akuatik baik secara fisiologis, tingkah laku, biokimia, maupun struktur tubuhnya yang mana perlu untuk kita ketahui.

Oleh karena itu dilakukan percobaan bagaimana variabel lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, deterjen dan kekeruhan berpengaruh terhadap organisme akuatik dan variabel lingkungan yang seperti apa yang dapat dikatakan berbahaya atau tidak terhadap organisme akuatik di suatu perairan.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui respon organisme akuatik terhadap variable lingkungan (suhu, pH, salinitas, deterjen dan kekeruhan) serta mengetahui kisaran toleransi organisme akuatik terhadap variable lingkungan.


II. METODELOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan pada hari Rabu, jam 08.00 – 11.00 WIB, tanggal 23 Februari  2011 dan 2 Maret 2011 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah akuarium, aerator, termometer, timbangan digital, turbidimeter, salinometer, gayung, ember, heater, lap/tissue, stopwatch, gelas cup, plastik kresek, penggaris, dan terminal listrik.

Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan mas, ikan lele, HCl, NaOH, surfaktan deterjen (LAS), es batu, aquades, kertas lakmus, dan lumpur.

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap Suhu

Siapkan 5 buah akuarium, masing-masing akuarium diisi 10 liter air, di tiap akuarium dipasang aerator dan juga siapkan thermometer. Akuarium 1 digunakan untuk kontrol, akuarium 2, 3, 4 digunakan untuk perlakuan suhu yang berbeda (panas: 350C, 400C, 450C dan dingin 200C, 150C, 100C) dan akuarium 5 digunakan untuk perlakuan peningkatan atau penurunan suhu secara gradual (2-3 0C tiap 15 menit). Untuk akuarium perlakuan suhu panas siapkan air panas dan akuarium perlakuan suhu dingin siapkan es batu. Pada masing-masing akuarium dimasukkan 5 ekor ikan (ditimbang terlebih dahulu bobotnya dengan menggunakan timbangan digital). Tingkah laku ikan diamati tiap 10 menit dan ikan yang mati dicatat. Bobot akhir ikan dari masing-masing akuarium ditimbang di akhir praktikum.

Parameter yang diamati yaitu lama bertahan ikan pada masing-masing media perlakuan, tingkah laku ikan selama percobaan, sekresi mukus dan kondisi ikan, survival rate ikan selama percobaan dan suhu yang mematikan (lethal). Rumus yang digunakan:

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate

2.3.2  Adaptasi Organisme Akuatik Terhadap Asam dan Basa

Siapkan 5 buah akuarium beserta aeratornya, tiap akuarium diisi 10 liter air,  kemudian masukkan 5 ekor ikan yang sudah ditimbang bobotnya. Untuk perlakuan asam, tambahkan HCl pada akuarium secara bertahap hingga mencapai pH yang diinginkan yaitu 3, 4, 5, 6, dan 7. Penurunan pH dari kondisi awal dilakukan secara gradual, paling cepat 0,5 satuan per 30 menit. Untuk perlakuan basa, tambahkan NaOH secara bertahap hingga mencapai pH yang diinginkan yaitu 7, 8, 9, 10, 11. peningkatan pH dari kondisi awal dilakukan secara gradual, paling cepat 0,5 satuan per 30 menit. Amati kondisi ikan tiap 15 menit selama 2 jam pertama setelah ikan ditreatment. Lama waktu percobaan 2×24 jam. Diamati pada jam 0, 12, 24, 36, dan 48 jam.

Parameter yang diamati yaitu daya tahan ikan (waktu) pada masing-masing media percobaan, tingkah laku ikan selama pengamatan, kondisi tubuh ikan (sekresi mukus, kondisi insang, kondisi sirip), dan derajat kelangsungan hidup (sintasan). Rumus yang digunakan:

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate

2.3.3 Adaptasi Ikan Terhadap Salinitas

Siapkan 5 buah akuarium yang diisi dengan 10 liter air, setelah akuarium diisi air, aerator dinyalakan. Isi akuarium dengan 5 ekor ikan yang telah ditimbang bobotnya. Tambahkan garam dapur ke dalam masing-masing akuarium sehingga menghasilkan salinitas yang diinginkan yaitu 0, 3, 6, 9, dan 12 ppt. Penambahan garam atau peningkatan salinitas harus dilakukan secara gradual paling cepat 1 ppt per 15 menit. (1 ppt = 1 gram/Liter air). Lalu amati kondisi ikan setiap 15 menit sekali selama 2 jam pertama setelah ikan ditreatmen. Lama waktu percobaan 2×24 jam. Diamati pada jam 0, 12, 24, 36, dan 48 jam.

Parameter yang diamati yaitu daya tahan ikan (waktu) pada masing-masing media percobaan, tingkah laku ikan selama pengamatan, kondisi tubuh ikan (sekresi mukus, kondisi insang, kondisi sirip), dan derajat kelangsungan hidup (sintasan). Rumus yang digunakan:

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate

2.3.4 Adaptasi Ikan Terhadap Deterjen

Siapkan 5 buah akuarium beserta aeratornya, tiap akuarium diisi 10 liter air,  kemudian masukkan 3 ekor ikan yang sudah ditimbang bobotnya. Akuarium 1 untuk kontrol, akuarium 2, 3, 4, dan 5 diberi deterjen 10 ppm, 30 ppm, 50 ppm, dan 70 ppm yang dilarutkan terlebih dahulu dengan air yang diambil dari masing-masing akuarium. Amati tiap 15 menit selama 1 jam, setelah itu ikan yang mati selama percobaan dicatat. Lama percobaan 2×24 jam. Waktu pengamatan pada jam 8.00, 12.00, dan 15.00. Bobot akhir ikan ditimbang diakhir praktikum.

Parameter yang diamati lama bertahan ikan, tingkah laku ikan selama percobaan, kondisi tubuh ikan, frekuensi kontraksi operculum/menit, sekresi mukus, dan kondisi insang serta kondisi sirip, survival rate ikan selama percobaan. Dan konsentrasi deterjen (LAS) yang mematikan (lethal). Rumus yang digunakan:

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate

2.3.5 Adaptasi Ikan Terhadap Kekeruhan

Siapkan 5 buah akuarium beserta aeratornya, tiap akuarium diisi 10 liter air,  kemudian masukkan 3 ekor ikan yang sudah ditimbang bobotnya. Akuarium 1 untuk kontrol, akuarium 2, 3, 4, dan 5 diberi lumpur 0.25 g/l, 0.5 g/l, 1 g/l, dan 1.5 g/l, penambahan partikel tanah dilakukan secara gradual (0.25 gram per 15 menit. Amati perlakuan tiap 10 menit selama 1 jam, setelah itu ikan yang mati selama percobaan dicatat. Lama percobaan 2×24 jam. Waktu pengamatan pada jam 8.00, 12.00, dan 15.00. Bobot akhir ikan ditimbang diakhir praktikum.

Parameter yang diamati lama bertahan ikan pada masing-masing perlakuan, tingkah laku ikan selama percobaan, survival rate selama percobaan, tingkat kekeruhan yang mematikan (lethal). Rumus yang digunakan:

Keterangan :

M   = Mortalitas                 Nt = Jumlah akhir

No = Jumlah awal             SR = Survival rate


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

3.1.1 Perlakuan Pada Suhu Panas

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio) pada suhu panas oleh kelompok 1.

Tabel 1. Perubahan Bobot Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Suhu Bo (g) Bt (g) ΔB (g)
Normal (kontrol) 42,39 gr 42,39 gr 0 gr
35ºC 53,62 gr 53,67 gr 0,05 gr
40ºC 45,13 gr 46 gr 0,87 gr
45ºC 49,43 gr 36 gr 13,43 gr
Gradual 47,10 gr 47,10 gr 0 gr

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi perubahan bobot pada ikan mas dengan perlakuan suhu panas.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada suhu panas oleh kelompok 1.

Tabel 2. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Perlakuan Suhu Panas

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan Suhu Panas Gradual
(kontrol) 35ºC 40ºC 45ºC
10 Ikan bergerak lambat Ikan megap-megap, sisik mengelupas, berenang aktif Ikan bergerak aktif, sisik mengelupas, megap-megap, lendir banyak, mati kurang dari 4 menit, mengalami penurunan bobot Ikan loncat-loncat, sisik mengelupas, ikan stress, bergerak sangat aktif, mati kurang dari beberapa menit, terdapat lendir yang banyak Ikan bergerak normal dan aktif pada suhi normal
20 Ikan berkoloniIkan bergerak aktif, Mendekati aerator Gerakan ikan melambat, ikan naik ke permukaan Pada suhu 27ºC – 29ºC ikan bergerak normal, dan ikan bergerak lambat
30 Ikan cenderung diam, Ikan mendekati aerator Air keruh, feses banyak, sirip punggung rontok Pada suhu 29ºC – 32º C sisik ikan mulai mengelupas, bergerak lebih aktif, banyak mengeluarkan fese, air mulai keruh
40 Berenang berkoloni, Mendekati aerator Ikan diam, bergerak mendekati aerator Pada suhu 32ºC – 33ºC ikan bergerak mendekati aerator, dan ikan mulai melemas
50 Ikan cenderung diam

Respon bergerak berkurang

Ikan diam, dan naik ke permukaan Pada suhu 33ºC-35ºC ikan bergerak aktif, ikan megap-megap, ikan naik ke permukaan
60 Ikan cenderung diam, Respon berkurang Hampir separuh bagian tubuh ikan, sisiknya mengelupas Pada suhu 35ºC-38ºC ikan bergerak sangat aktif, ikan bergerak mendekati aerator, kulit ikan mengalami iritasi
08.00

Kamis

Bergerak normal Bergerak normal Bergerak normal
12.00

Kamis

Bergerak dekat aerator, jumlah feses paling sedikit, ikan bergerak aktif Ikan bergerak dekat aerator, feses banyak, bergerak lebih aktif dibandig akuarium 5, warna air lebih keruh Ikan berkumpul dekat aerator, lebih pasif, jumlah feses sedikit
15.00

Kamis

Ikan berkumpul dekat aerator, warna tubuh lebih jelas Ikan berkumpul dekat aerator, gerakkannya aktif Ikan bergerak pasif,

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas cenderung melemah dan sisiknya mengelupas.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup terhadap waktu pada suhu panas oleh kelompok 1.

Tabel 3. Jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup Pada Perlakuan Suhu Panas
Kontrol 35 40 45 Gradual
10 3 3 0 0 3
20 3 3 3
30 3 3 3
40 3 3 3
50 3 3 3
60 3 3 3
M 0 0 100 100 0
SR 100 100 0 0 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa semua ikan mati pada suhu 400C dan 450C.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan lele (Clarias batracus) pada suhu panas oleh kelompok 6.

Tabel 4. Perubahan Bobot Ikan Lele (Clarias batracus) pada Suhu Panas

Suhu Bo (g) Bt (g) ΔB (g)
Normal (kontrol) 35,1 gr 35,5 gr 0,45 gr
35ºC 27,3 gr 27,3 gr 0 gr
40ºC 29,9 gr 29,9 gr 0 gr
45ºC 27,2 gr 27,2 gr 0 gr
Gradual 30,8 gr 30,9 gr 0,015 gr

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi sedikit perubahan bobot pada ikan lele pada suhu panas.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan lele (Clarias batracus) pada suhu panas oleh kelompok 6.

Tabel 5. Tingkah Laku Ikan Lele (Clarias batracus) pada Perlakuan Suhu Panas

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan Suhu Panas Gradual
Kontrol 35ºC 40ºC 45ºC
10 Ikan bergerak aktif, Awalnya berenang biasa, kemudian berenang menjadi lebih agresif Ikan berenang agresif dan tidak beraturan (kepermukaan lalu ke dasar) mati pada waktu diatas 1 menit Ikan bergerak sangat agresif dan tidak beraturan kemudian mati pada waktu kurang 1 menit Pada suhu 29ºC-32ºC ikan bergerak agresif, ikan cenderung dapat beradaptasi dengan lingkungannya, ikan mulai menyerang ikan lainnya
20 Ikan bergerak aktif, Mendekati thermometer Ikan cenderung berenang ke permukaan air, lalu kedasar air secara terus menerus dan tidak beraturan Pada suhu 32ºC – 35ºC ikan bergerak kedasar, satu ikan cenderung diam, hal ini karena ikan mulai mengalami iritasi kaibat perubahan suhu dan saling menyerang, ikan mengalami pendarahna dan 1 ikan mati
30 Ada 1 ikan yang berdiri, Ikan cenderung diam, Ikan mendekati aerator Ikan mulai bergerak melambat, dan kurang agresif Pada suhu 35ºC – 38º C dua ikan tersisa bergerak lebih agresif karenan iritasi namun mulai bergerak normal dan mulai dapat menyesuaikan diri karenan ikan lele dapat bertahan dengan kisaran kenaikan suhu < 5ºC
40 Ikan bergerak aktif, Ada 1 ikan yang berdiri, berkoloni,Mendekati aerator Ikan mulai tidak bergerak seolah-olah pingsan, kemudian bergerak kembali Pada suhu 38ºC – 41ºC ikan mengalami stess namun tetap hidup dalam keadaan pendarahan dan iritasi
50 Ikan cenderung diam

Respon bergerak berkurang

Ikan semakin sering tidak bergerak dalam selang waktu yang singkat Pada suhu 41ºC-44ºC ikan mati
60 Ikan cenderung diam, Respon berkurang Ikan mengalami pendarahan dibagian sirip pectoral, bagian perut dan anus

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan cenderung melemah dan pada suhu tinggi ikan menjadi mati.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan lele (Clarias batracus) yang hidup terhadap waktu pada suhu panas oleh kelompok 6.

Tabel 6. Jumlah Ikan Lele (Clarias batracus) yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup Pada Perlakuan Suhu Panas
Kontrol 35 40 45 Gradual
10 3 3 0 0 3
20 3 3 3
30 3 3 3
40 3 3 2
50 3 3 2
60 3 3 2
M 0 0 100 100 33,3
SR 100 100 0 0 66,3

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan mati pada 10 menit pertama dengan suhu 400C dan 450C.

3.1.2 Perlakuan Pada Suhu Dingin

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan suhu dingin oleh kelompok 2.

Tabel 7. Perubahan Bobot Ikan Mas (Cyprinus carpio)

No Suhu Bo (g) Bt (g) ΔB (g)
1 (kontrol) 11,57 9,67 1,90
2 10ºC 8,39 7,67 0,72
3 15ºC 8,57 8,0 0,57
4 20ºC 9,74 8,33 1,41
5 Gradual 8,76 7,83 0,93

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi penurunan bobot ikan mas dengan perlakuan suhu dingin.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) oleh kelompok 2 dengan perlakuan suhu dingin.

Tabel 8. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Perlakuan Suhu Dingin

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) Pada Perlakuan Suhu Dingin
kontrol 20ºC 15ºC 10ºC Gradual
15 Ikan normal Ikan bergerak pasif mendekati aerator Ikan bergerak pasif, semua mendekati aerator, diam di dasar Ikan masih bergerak pasif, menjauhi aerator,ikan terkapar di dasar Ikan bergerak pasif dan aktif
30 Ikan normal Sama seperti 15 menit pertama Sama seperti 15 menit pertama 2 ikan pingsan dan 1 ikan diam Ikan bergerak lebih pasif
45 Ikan normal Bergerak pasif, berkumpul di pojok, dan menjauhi aerator Ikan bergerak pasif , menjauhi aerator Semua ikan pingsan Ikan sudah mulai pingsan
60 Ikan normal Ikan mendekati aerator Ikan menjauhi aerator tetapi ikan cenderung diam Ikan pingsan Ikan pingsan

Dari tabel di atas terlihat bahwa semakin dingin suhu, maka ikan akan semakin mudah pingsan.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup terhadap waktu oleh kelompok 2 dengan perlakuan suhu dingin.

Tabel 9. Jumlah Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup Pada Perlakuan
Kontrol 20°C 15°C 10°C Gradual
15 3 3 3 3 3
30 3 3 3 3 3
45 3 3 3 3 3
60 3 3 3 3 3
M 0% 0% 0% 0% 0%
SR 100% 100% 100% 100% 100%

Dari tabel di atas terlihat bahwa semua ikan hidup dengan perlakuan suhu dingin.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan suhu dingin oleh kelompok 7.

Tabel 10. Perubahan Bobot Ikan Mas pada Suhu Dingin

No Suhu Bo (g) Bt (g) ΔB (g)
1 Gradual 20,73 gr 16,15 gr 4,58 gr
2 20ºC 25,06 gr 20,38 gr 4,68 gr
3 10ºC 15,45 gr 14 gr 1,45 gr
4 5ºC 32,21 gr 18 gr 14,21 gr
5 Kontrol 20,27 gr 19,19 gr 1,08 gr

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi perubahan bobot pada ikan mas akibat perlakuan dingin dan perubahan bobot terbesar pada suhu 50C.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan suhu dingin oleh kelompok 7.

Tabel 11. Tingkah Laku Ikan

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan pada Perlakuan Suhu Dingin
kontrol 20ºC 10ºC 5ºC Gradual
15 Ikan sanngat aktif Ikan berkelompok, tidak bergerak, ada di dasar Ikan diam, didasar, insang dan sirip memerah Ikan mati pada menit ke 10, dimana sebelumnya diam di dasar, perut dan badan biru, insang dan sirip merah, berlendir tidak bereaksi apa-apa, kulit rusak Ikan lemas, namun tetap bergerak, insang merah, cenderung ada yang tidak bergerak
30 Ikan masih aktif, operculum bergerak cepat Ikan diam, warna pucat, operculum kurang bergerak Ikan mati ( 14gr/5 ekor) Kulit ikan mulai berubah warna keputihan transparan, ikan cenderung diam dan terkadang membentuk posisi tegak dan tiba-tiba hyperaktif
45 Ikan masih aktif Ikan lebih aktif dari sebelumnya tapi operculum masih kurang bergerak Hampir sama dengan perlakuan sebelumnya
60 Ikan masih aktif Ikan diam, pucat, mulut dan operculum tidak bergerak Ikan lebih banyak diam, hanya beberapa ekor yang aktif, kemudian aktif kembali
12.00

Rabu

Diam didasar, aktif. Diam tubuh Agresif
15.00

Rabu

Diam operculum tidak bergerak, mulut bergerak Diam operculum bergerak, mulut bergerak Masih Agresif
08.00

Kamis

Masih hidup aktif Hidup lemas dan ada didasar. Mulut bergerak. masih hidup dan masih agresif aktif
12.00

Kamis

Ada didasar lemas. Operculum bergerak gerak mulut megap-megap berada didasar akuarium Lemas dan mulut megap-megap
15.00

Kamis

Lemas, kadang kadang bergerak,tidak bergerombol. Diam dan kadang kadang meloncat kepermukaan Masih aktif bergerak

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan cenderung melemah bahkan sampai mati akibat perlakuan suhu dingin.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan suhu dingin oleh kelompok 7.

Tabel 12. Jumlah ikan yang hidup terhadap waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup pada Perlakuan Suhu Dingin
Kontrol 20°C 10°C 5°C Gradual
15 5 5 5 0 5
30 5 5 0 0 5
45 5 5 0 0 5
60 5 5 0 0 5
M 0% 0% 100% 100% 0%
SR 100% 100% 0% 0% 100%

Dari tabel di atas terlihat bahwa pada suhu 100C dan 50C semua ikan mati akibat perlakuan suhu dingin.

3.1.3 Perlakuan Pada pH Asam

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan kelompok 3 dengan perlakuan pH asam terhadap perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio).

Tabel 13. Perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio)

pH Bo Bi ∆B
Kontrol 43,65 gr 43,65 gr 0
pH 2 50,18 gr 41 gr 9,18gr
pH 3 36,98 gr 29 gr 7,98 gr
pH 4 37,45 gr 37,26 gr 0,19 gr
Gradual 68,23 gr 49 gr 19,23 gr

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi perubahan bobot dan yang terbesar terjadi pada pH 2.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan kelompok 3 dengan perlakuan pH asam terhadap tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio).

Tabel 2. Tingkah Laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan pH asam

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan pH Asam
(kontrol) Penurunan pH 7 sampai 2 Penurunan pH 7 sampai 3 Penurunan pH 7 sampai 4 pH Gradual
10 Ikan bergerak stabil Ikan bergerak cepat ikan bergerak aktif ikan aktif meloncat-loncat Ikan bergerak cepat dan adaptasi
20 Ikan bergerak stabil Ikan keluar banyak lendir Ikan stabil kembali Sisik melai mengelupas Ikan bergerak stabil
30 Ikan bergerak stabil Ikan berenang tidak beraturan Ikan mengeluarkan lendir Ikan berlendir Ikan sisik dan sirip rusak
40 Ikan bergerak stabil ikan mati secara bertahap Operculum melambat, renang tidak beraturan Lendir semakin banyak Gerakan ikan semakin melemah
50 Ikan bergerak stabil Ikan mati semua Ikan mati b ertahap Mati perlahan-lahan Ikan mati perlahan-lahan
60 Ikan bergerak stabil Ikan mati semua Ikan mati semua pergerakan pasif

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan cenderung melemah dan lebih cepat mati pada pH 2.

Dibawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup terhadap waktu dengan perlakuan pH asam oleh kelompok 3.

Tabel 14. Jumlah Ikan yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup Pada Perlakuan pH Asam
1

Kontrol

pH 2 pH 3 pH 4 pH Gradual
10 5 5 5 5 5
20 5 5 5 5 5
30 5 3 5 5 5
40 5 0 5 5 5
50 5 0 5 5 5
60 5 0 3 5 4
dst 5 0 0 0 0
M 0% 100% 100% 100% 100%
SR 100% 0% 0% 0% 0%

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah ikan berkurang karena adanya ikan yang mati akibat pH asam.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan kelompok 8 dengan perlakuan pH asam terhadap perubahan bobot ikan lele (Clarias batrachus).

Tabel 15. Perubahan bobot ikan lele (Clarias batrachus)

pH Bo B1 (g) ∆ B (g)
Kontrol 19,55 gr
pH 6 17,53 gr
pH 7 17,98 gr
pH 8 15,82 gr
Gradual 20,70 gr

*nb: data tidak lengkap

Dibawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan lele (Clarias batrachus) dengan perlakuan pH asam oleh kelompok 8.

Tabel 16. Tingkah Laku Ikan Lele (Clarias batrachus)

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan pH Asam
1 (kontrol) pH 2 pH 3 pH 4 pH Gradual
15 Ikan cenderung diam Ikan bergerak kepermukaan air, ikan aktif meloncat ke permukaan air Ikan lonpat ke permukaan Ikan aktif begerak dan melompat-lompat Ikan bergerak cepat
30 Ikan cenderung diam Ikan mulai pasif, cenderung diam, berdiri tegak, disekitar sirip dada tampak memerah Ikan bergerak pasif, insang memerah Ikan aktif,insng dan bagian dorsal memerah Ikan bergerak stabil
45 Keaktifan ikan berkurang Ikan berenang tidak beraturan, lompat-lompat, mengigit satu sama lain Ikan melemas Ikan kurang aktif Ikan sisik dan sirip rusak
60 Keaktifan ikan sangat berkurang Ikan cenderung diam Ikan sudah melemas Insang berdarah untuk beberapa ekor Gerakan ikan melemah
08.00

Kamis

Ikan tenang, tidak ada yang mati Ikan masih tetap hidup Ikan tidak ada yang mati 2 ikan yang mati, ikan habis 2 ikan mati
12.00

Kamis

ikan cenderung diam, tidak aktif, beberapa ikan siripnya memerah Ikan tampak melemah, cenderung diam, tidak aktif, ikan cenderung di dasar tidak ke permukaan Warna memudar, ikan melemah, ikan berada di dasar 1 ikan mati, ikan berdiri tegak, cenderung diam, mulutnya megap-megap

15.00

Kamis

Ikan aktif setelah disentuh tetapi hanya bereaksi sebentar lalu diam lagi dan ada 2 ikan mulutnya ke atas permukaan air, sirip vebtral terluka

Gerakan aktif, ikan saling kejar-kejaran tetapi ada juga yang diam, tubuhnya memerah, mulutnya menghadap ke atas permukaan

Gerakan aktif, pergerakan cepat setelah disentuh, kejar-kejaran, sirip dorsal dan pektoral luka-luka, tubuh memerah

Gerak aktif setelah disentuh, sungut dan tubuh dipenuhi lendir setelah disentuh sebentar langsung bereaksi tetapi langsung diam kembali lagi, air keruh

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan lele cenderung melemah, tingkat aktifitas dari ikan lele cukup berkurang.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan lele (Clarias batrachus) dengan perlakuan pH asam terhadap yang hidup terhadap waktu oleh kelompok 8.

Tabel 17. Jumlah Ikan Lele (Clarias batrachus) yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup Pada Perlakuan pH Asam
1

Kontrol

pH 2 pH 3 pH 4 pH Gradual
10 5 5 5 5 5
20 5 5 5 5 5
30 5 3 5 5 5
40 5 0 5 5 5
50 5 0 5 5 5
60 5 0 3 5 5
Dst 5 0 0 0 4
M 0% 100% 100% 100% 20%
SR 100% 0% 0% 0% 80%

Dari tabel di atas diketahui ikan mengalami kematian pada pH asam.

3.1.4 Perlakuan Pada pH Basa

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan pH basa oleh kelompok 4.

Tabel 18. Perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio)

pH Bo Bi ∆B
Kontrol 48,98 gr 40,65 gr 8,33 gr
pH 7 46,18 gr 40,34 gr 5,84
pH 8 58,05 gr 50,57 gr 7,48
pH 9 49,20 gr 31,50 gr 17,7 gr
Gradual 43,95 gr 33,2 gr 10,75 gr

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi perubahan bobot akibat perlakuan pH basa dan perubahan bobot terbesar oleh pH 9.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan pH basa oleh kelompok 4.

Tabel 19. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Perlakuan pH Basa.

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan
Kontrol pH 7 pH 8 pH 9 Gradual
15 Ikan bergerak tenang berada di permukaan Bergerak aktif menuju ke aerator Ikan bergerak tenang di bagian dasar Ikan bergerak menuju aerator Ikan bergerak tenang
30 Ikan menyebar keberapa bagian berbeda Berkumpul (tenang) di aerator Tidak bergerak aktif, berkumpul di aerator Ikan bergerak aktif dan menyebar Ikan berkumpul di aerator
45 Ikan berkumpul (bergrombol) pada satu sudut Ikan berkumpul pada satu sudut Ikan berkumpul pada satu sudut Ikan menyebar keseluruh bagian Ikan menyebar
60 Ikan bergerak menjauhi aerator Ikan bergerak tenang di dasar dan berkumpul Ikan bergerak aktif dan berpencar Ikan bergerak mendekati aerator di permukaan Ikan berpencar di permukaan namun tidak aktif
75 Ikan berkumpul diaerator Ikan berkumpul dan menajuhi aerator Bergerak aktif dan ber pencar Ikan bergerak mendekati aerator di permukaan Ikan berkumpul di satu sudut
90 Ikan menyebar di permukaan Ikan menjauhi aerator Ikan bergerak di aerator Ikan bergerak menyebar Ikan menyebar di permukaan dan kurang aktif (lemah)
105 Ikan menyebar Ikan menyebar  bergerak aktif Ikan bergerak aktif dan berkumpul Ikan tidak bergerak aktif Ikan bergerak di permukaan
120 Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang
08.00 4 ikan bergerak aktif dan 1 ikan agak murung Aktif semua Aktif semua Aktif semua 4 ikan mati
12.00 Ikan bergerombol pada aerator, jumlah ikan 5 ekor Ikan bergerak tenang, kadang bergerombol pada satu sudut air keruh, jumlah ikan 5 ekor Jumlah ikan 5 ekor, air keruh, ikan bergerak tenang dan bergerombol Ikan bergerak tenang, jumlah ikan 5 ekor Semua ikan mati
15.00 Tidak ada ikan yang mati Tidak ada ikan yang mati Tidak ada ikan yang mati Tidak ada ikan yang mati

Pada tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas cenderung melemah dan mendekati aerator.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup terhadap waktu oleh kelompok 4.

Tabel 20.Jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup terhadap waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup Pada Perlakuan
Kontrol pH 7 pH 8 pH 9 pH gradual
10 5 5 5 5 5
20 5 5 5 5 5
30 5 5 5 5 5
40 5 5 5 5 5
50 5 5 5 5 5
60 5 5 5 5 5
Dst 5 5 5 5 5
M 0 0 0 0 100%
SR 100% 100% 100% 100% 0

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah ikan tetap pada kontrol, pH 7, pH 8, pH 9 sedangkan pada gradual ikan mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan lele Clarias batrachus) dengan perlakuan pH basa oleh kelompok 9.

Tabel 21.Perubahan Bobot Ikan Lele (Clarias batrachus)

pH Bo Bi ∆B
Kontrol 22,56 gr 16,05 gr 6,51 gr
pH 7 23,68 gr 16,45 gr 7,23 gr
pH 8 29,71 gr 19,68 gr 10,03 gr
pH 9 25,65 gr 18,05 gr 7,6 gr
Gradual 22,23 gr 16,51 gr 5,72 gr

Dari data diatas terlihat bahwa ikan lele mengalami perubahan bobot akibar perlakuan pH basa dan perubahan bobot yang paling besar terjadi di pH 8.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perlakuan ikan lele (Clarias batrachus) dengan pH basa oleh kelompok 9.

Tabel 2. Tingkah Laku Ikan Lele (Clarias batrachus) pada Perlakuan pH Basa

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan pH Basa
Akuarium 1 Akuarium 2 Akuarium 3 Akuarium 4 Akuarium 5
08.00

Kamis

Ikan aktif, pergerakan aktif Ikan pasif, warna memudar Ikan pasif, ada yang aktif, ikan terluka, berdarah, melut mengarah ke permukaan Pergerakan ika lambat, mulut mengarahke permukaan, warna memudar, ikan terluka Mati 2 ekor, pergerakan ikan lambat
12.00

Kamis

Gerakan ikan masih aktif, air sedikit keruh Gerakan ikan pasif warna memudar mulut mengarah ke permukaan air mulai mengeruh Gerakan ikan pasif, warna memudar, ikan terluka, berdarah , mulut mengarah ke permukaan air mulai mengeruh Gerakan ikan pasif, warna memudar, ikan terluka, berdarah , mulut mengarah ke permukaan air mulai mengeruh, sangat berlendir Gerakan ikan pasif, sungut berlendir, tubuh terluka, air keruh (paling keruh)
15.00

Kamis

Ikannya aktif setelah disentuh, tapi ada juga yang bereaksi sebentar dan diam kembali serta sirip dorsal luka-luka Ikannya aktf setelah disentuh, tapi bereaksi sebentar dan diam (pura-pura mati), kejar-kejaran satu sama lain, kulitnya memudar Ikannya aktf setelah disentuh, tapi bereaksi sebentar dan diam (pura-pura mati), kejar-kejaran satu sama lain, ada yang mulutnya menghadap ke atas, tubuhnya mengelupas sehingga pada bagian dada berwarna putih Ikannya aktf setelah disentuh, tapi bereaksi sebentar dan diam, ada yang mulutnya menghadap ke atas, pergerakannya lambat, sirip dorsal luka-luka, bagian kepala memutih atau mengelupas Ikannya aktf setelah disentuh, tapi bereaksi sebentar, pergerakannya setelah disentuh cepat, mengeluarkan banyak lendir sehingga airnya jadi keruh dan banyak kotoran di dasar akuarium
12.00

Jumat

Ikan sehat, tidak terjadi apa-apa, bergerak normal Sirip ikan memerah (terjadi pendarahan), ikan pasif, diam Tubuh ikan miring, sirip-sirip merah, tubuh luka, ikan diam Ikan diam, tubuhnya miring-miring, sirip memerah, ada lendir di sungut, ada luka di badan Sungut sangat berlendir, warna memudar, kulit terkelupas, ikan diam, tubuh terluka
15.00

Jumat

Ikan kurang aktif Sirip memerah, ikan tidak aktif Sirip memerah, ikan tidak aktif, ikan berkelah beberapa saat Ikan tidak aktif, mulut mengarah ke permukaan, saling menghindar satu sama lain Ikan mati 2 ekor Bt = 8,49 gr, mulut mengarah ke permukaan, sungut berlendir banyak

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan cenderung tidak aktif akibat perlakuan pH basa.

*nb: data pengamatan 1 jam pertama tidak ada

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan lele (Clarias batracus) yang hidup terhadap waktu pada perlakuan pH basa oleh kelompok 9.

Tabel 22. Jumlah ikan lele (Clarias batracus) yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Hidup Pada Perlakuan pH Basa
Kontrol pH 7 pH 8 pH 9 pH gradual
10 5 5 5 5 5
20 5 5 5 5 5
30 5 5 5 5 5
40 5 5 5 5 5
50 5 5 5 5 5
60 5 5 5 5 5
Dst 5 4 4 3 1
M 0 20% 20% 40% 80%
SR 100% 80% 80% 60% 20%

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah ikan semakin berkurang pada pH yang semakin basa.

3.1.5 Perlakuan Pada Salinitas

Di bawah ini adalah hasil pengamatan perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas oleh kelompok 5.

Tabel 23. Perubahan Bobot Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Salinitas Bo
Kontrol 44,59 gr
2 50,16 gr
3 52,78 gr
4 43,10 gr
5 45,94 gr

Dari tabel di atas terlihat bahwa

*nb : data tidak lengkap

Di bawah ini adalah hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas oleh kelompok 5.

Tabel 24. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Perlakuan Suhu

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan
1 Kontrol 3 ppt 6 ppt 9 ppt 12 ppt
15 Ikan bergerak normal Ikan bergerak normal berenang normal berenang normal berenang normal
30 Ikan berenang aktif berenang normal berenang lambat berenang normal
45 Ikan melompat-lompat berenang sedikit lambat berenang lambat berenang lambat
60 Ikan cenderung diam berenang sedikit lambat berenang lambat dan pergerakan operkulum lebih cepat berenang lambat
08.00

Kamis

Ikan berenang normal, aktif Ikan berenang normal, aktif Ikan berenang normal, aktif, banyak feses daripada akuarium 1 dan 2 Ikan berenang normal, aktif, feses paling banyak dari akuarium 1,2,3 Ikan berenang normal, aktif, feses paling banyak, operkulum banyak
12.00

Kamis

Semua ikan berenang normal dan aktif Semua ikan berenang normal dan aktif Semua ikan berenang normal dan aktif Ikan berenang dengan lambat, operkulum agak cepat dan sering Ikan berenang dengan lambat, operkulum agak cepat dan sering
15.00

Kamis

Semua ikan berenang normal dan aktif Semua ikan berenang normal dan aktif Ikan bergerak lambat Ikan berenang lambat, operkulum mengalami pembengkakan dan feses lebih banyak di banding kontrol Ikan berenang dengan lambat, operkulum mengalami pembengkakan dan fese lebih banyak dibandingkan kontrol

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan cenderung melemah seiring berjalannya waktu.

*nb: Kelompok 5 jumlah ikan mati tidak tidak dicantumkan

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan lele (Clarias batracus) pada perlakuan salinitas oleh kelompok 10.

Tabel 25. Perubahan Bobot Ikan Lele (Clarias batracus)

Salinitas Bo
Kontrol 17,46 gr
2 17,51 gr
3 14,82 gr
4 19,16 gr
5 17,43 gr

Dari tabel di atas diketahui bahwa

*nb : data tidak lengkap

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan lele (Clarias batracus) pada perlakuan salinitas oleh kelompok 10.

Tabel 26. Tingkah Laku Ikan Lele (Clarias batracus) pada Perlakuan Salinitas

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan Salinitas
1 Kontrol 3 ppt 6 ppt 9 ppt 12 ppt
15 Ikan bergerak normal Ikan bergerak normal berenang normal berenang normal berenang normal
30 Ikan berenang aktif Berenang normal berenang normal berenang lambat berenang normal
45 Ikan melompat-lompat Ikan mendekati aerator berenang sedikit lambat berenang lambat berenang lambat
60 Ikan diam Ikan diam Berenang lambat Pergerakan operkulum lebih cepat berenang lambat
12.00

Rabu

Semua ikan tenang Semua ikan tenang Ikan aktif, air lebih keruh ikan tenang, mulut menghadap ke atas, warna tubuh memudar jika dibandingkan dengan kontrol 1 ikan mengambang setelah disentuh gerak kembali, warna tubuh memudar
15.00

Rabu

Semua ikan tenang Semua ikan tenang Semua ikan aktif Ikan tenang, tidak ada yang mati 1 ikan mengambang, operkulum membengkak dan berwarna merah, ikan-ikan lainnya aktif

Dari tabel di atas diketahui bahwa tingkah laku ikan cenderung melemah dan warna tubuhnya memudar.

*nb: Kelompok 9 jumlah ikan mati tidak tidak dicantumkan

3.1.6 Perlakuan Terhadap Deterjen

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan deterjen.

Tabel 27. Perubahan Bobot Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Deterjen Bo (g) B1 (g) Δ B (g)
Kontrol 7.14 6.73 0.41
10 ppm 8.48 8.05 0.43
Kontrol 7,13 6.33 0.80
30 ppm 7,31 7.38 0.07
Kontrol 8.90
50 ppm 16.79
Kontrol 8.23 8.15 0.08
70 ppm 6.81 6.92 0.11
Kontrol 7.83 7.45 0.38
80 ppm 6.21 6.04 0.17

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan mas mengalami penurunan bobot.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan deterjen.

Tabel 28. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Waktu (menit) Tingkah Laku Ikan Pada Perlakuan
kontrol 10 ppm 30 ppm 50 ppm 70 ppm 80 ppm
15 ikan beradaptasi, Ikan bergerombol, ikan menjauhi aerator Beradaptasi, ikan tidak seaktif kontrol Normal, masih beradaptasi, ikan bergerombol, ikan berenang aktif beradaptasi, ikan cenderung ke dasar, membuka mulut lebih lebar dan sering bernafas Masih beradaptasi, ikan bergerak pasif menjauhi aerator, diam di dasar akuarium Ikan aktif
30 Keadaan operculum tenang seperti awal Operculumnya lebih cepat membuka dan menutup. Ikan berenang ke permukaan dan melompat-lompat

Ikan menjauhi busa deterjen

Ikan menjadi pucat, mendekati aerator Ikan bergerombol dan kemudian diam di dasar dan mendekati aerasi Mulut dan insang membuka lebih cepat
45 ikan diam didasar, Ikan berenang seperti biasa Berenang seperti biasa, aktivitas operculum lebih cepat. Ikan bergerak menjauhi busa, ikan bergerak kepermukaan, ikan tidak bergerombol, ikan mati 2 Ikan bergerak lebih cepat 1 ekor ikan bergerak aktif dan 2 ekor ikan mengambang di permukaan Insang membuka lebih lebar namun tidak terlalu cepat

60

Ikan berenang aktif  bernafas normal

Gerakan operculum semakin cepat, laju pernapasan cepat.

Ikan oleng, menjauhi aerator, dan mengeluarkan feces, ikan mati 1

Ikan luka di bagian dekat kepala, membuka mulut dengan pelan

Bergerombol mndekati aerator. Gerak operculum semakin cepat.

Ikan masih aktif, berada di dekat aerator, ikan berlendir

08.00 WIB Ikan aktif bergerak . Ikan lebih tenang, banyak feses Ikan tidak ada (habis) Warna memudar, mati 1 Ikan semakin aktif dan banyak lendir Ikan berlendir
12.00 WIB Ikan aktif bergerak, saling berkejaran, aktivitas operculum tidak terlalu cepat Ikan tenang Ikan berada di dasar akuarium, mulut terbuka lebar, warna kulit dan sirip pucat Semua ikan mati Ikan mati 3
15.00 WIB Ikan aktif bergerak tidak saling berkejaran, feses sedikit Ikan tenang, air keruh Warna ikan pucat, mengambil napas secara cepat, sirip ventral bergerak cepat, iritasi berlebih

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan cenderung melemas.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup terhadap waktu dengan perlakuan deterjen.

Tabel 29. Jumlah Ikan Lele yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Mas Hidup pada Perlakuan Deterjen
Kontrol 10 ppm Kontrol 30 ppm Kontrol 50 ppm Kontrol 70 ppm Kontrol 80 ppm
15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
30 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
45 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
60 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3
12.00 wib 3 3 3 0 3 3 3 0 0 0
15.00 wib 3 3 3 0 3 3 3 0 0 0
08.00 wib 3 3 3 0 2 2 3 0 0 0
12.00 wib 3 3 3 0 2 2 3 0 0 0
15.00 wib 3 3 3 0 2 2 3 0 0 0
08.00 wib 3 3 3 0 2 2 3 0 0 0
SR(%) 100 100 100 0 66.7 66.7 100 0 0 0
M (%) 0 0 0 100 33.3 33.3 0 100 100 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi pengurangan jumlah ikan karena ada ikan yang mati akibat deterjen.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan lele (Clarias batracus) dengan perlakuan deterjen.

Tabel 30. Perubahan Bobot Ikan Lele (Clarias batracus)

Deterjen Bo (g) B1 (g) Δ B (g)
Kontrol 9.73 8.59 1.14
10 ppm 8.55 9.23 0.68
Kontrol 8,53 8.69 0.16
30 ppm 7,27 10.93 3.66
Kontrol 19.19
50 ppm 8.92
Kontrol 7.41 7.35 0.06
70 ppm 11.26 12.03 0.77
Kontrol 8.03 7.43 0.6
80 ppm 5.02 4.18 0.84

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan mengalami penurunan bobot akibat perlakuan deterjen.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot ikan lele (Clarias batracus) dengan perlakuan deterjen.

Tabel 31. Tingkah Laku Ikan Lele (Clarias batracus)

Waktu

(menit)

Tingkah Laku Ikan
Kontrol 10 ppm 30 ppm 50 ppm 70 ppm 80 ppm
15 Ikan tenang 2 ikan tenang, 1 aktif Ikan bergerak aktif

Ikan berenang ke permukaan

Ikan lebih agresif, normal, kemudian mendiami suatu sisi Ikan bergerak pasif, 1 ekor mengambang, 2 diam di dasar akuarium Ikan diam, kurang aktif, gerakan operculum lebih cepat
30 Ikan tenang Semua ikan tenang, bukaan operculum lebih cepat dan lebar (1 ikan) Ikan stress, ikan berdiri tegak, ikan menjauhi aerator Ikan berenang cepat, diam di satu sisi, berubah warna menjadi pucat 2 ekor ikan bergerak aktif kemudian diam di dasar, 1 diam di dasar dan mendekati aerasi Ikan diam, mulut terbuka
45 1 ikan aktif, 2 ikan tenang Ikan tenang semua, operculum bergerak lebih cepat dan memerah Ikan mendekati aerator, cenderung diam dan menjauhi busa Ikan stress dan iritasi, warna pucat, cenderung diam 1 ekor ikan bergerak aktif dan 2 ikan lainnya mengambang Ikan diam, berada di dasar akuarium dan mendekati aerator
60 1 ikan aktif, 2 ikan tenang Ikan  tenang, operculum bergerak cepat, ikan mulai mabuk (keseimbangan ikan berkurang) Ikan berdiri tegak, ada yang mendekati aerator, sirip ikan ada yang rusak, dan ada 1 lele mati Ikan mengalami iritasi, kulirt terkelupas hingga berdarah Semua ikan bergerak aktif, cenderung bergerak ke permukaan. Ada bagian tubuh yang membengkak, 1 ekor ikan mati Ikan aktif di dekat aerator
12.00 WIB Ikan tenang Ikan sress, operculum cepat Ikan mati 2 ekor Ikan cenderung diam, warna tubuh pucat, mendekati aerasi Semua ikan mati Ikan mati 2 ekor
15.00 WIB Ikan tenang di dasar akuarium Ikan stress, berenang ke permukaan, sirip dan bagian tubuhnya berdarah Ikan tidak ada (habis) Kulit mengelupas, warna kulit pucat, sungut menegang Mati 1
08.00 WIB 1 ikan aktif, 2 ikan tenang 1 ikan mati, 2 ikan tenang Ikan tidak ada (habis) Badan luka, kulit terkelupas, warna pucat
12.00 WIB Ikan tenang, berenang. Ikan tenang di dasar perairan, lebih aktif bernafas Ikan tidak ada (habis) Sirip pucat dan kulit mengelupas =
15.00 WIB Ikan tenang Ikan hampir mati Ikan tidak ada (habis) Sirip dan badan ikan pucat
08.00 WIB 1 ikan mati, 2 ikan aktif 1 Ikan mati, 1 ikan stress Ikan tidak ada (habis)

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan cenderung melemas dan ada beberapa ikan yang mati.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup terhadap waktu dengan perlakuan deterjen.

Tabel 32. Jumlah Ikan yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu Jumlah  ikan lele pada perlakuan deterjen
Kontrol 10 ppm Kontrol 30 ppm Kontrol 50 ppm Kontrol 70 ppm Kontrol 80 ppm
15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
30 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
45 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
60 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3
12.00 wib 3 3 3 0 3 3 3 0 3 1
15.00 wib 3 3 3 0 3 3 3 0 3 0
08.00 wib 3 2 3 0 3 3 3 0 3 0
12.00 wib 3 3 3 0 3 3 3 0 3 0
15.00 wib 3 3 3 0 3 3 3 0 2 0
08.00 wib 2 1 3 0 3 3 3 0 2 0
SR(%) 66.7 33.3 100 0 100 100 100 0 66.7 0
M(%) 33.3 66.7 0 100 0 0 0 100 33.3 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi pengurangan jumlah ikan karena adanya ikan lele yang mati akibat deterjen.

3.1.7 Perlakuan Terhadap Kekeruhan

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot pada ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan kekeruhan.

Tabel  33. Perubahan Bobot pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Kekeruhan Bo (g) B1 (g) Δ B (g)
Kontrol 6.42 5.35 1.07
0,25 g/l 9.61 8.43 1.18
Kontrol 7.61
0,5 g/l 7.91 7.45 0.46
Kontrol 11,93 12,36 0,43
1 g/l 8,50 9,23 0,73
Kontrol 11.35 (tidak ditimbang)
1,5 g/l 7.08 7.55 0.47
Kontrol 7.53 7.28 0.25
2 g/l 14.03 12.88 1.15

Dari tabel dapat dilihat bahwa penurunan bobot terjadi terhadap perlakuan kekeruhan.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku pada ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perlakuan kekeruhan.

Tabel 34. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Perlakuan Kekeruhan

Waktu Tingkah laku ikan
kontrol 0,25 g/l 0,5 g/l 1 g/l 1,5 g/l 2 g/l
15 Ikan tenang 2 ikan tenang, 1 aktif Ikan bergerak aktif

Ikan berenang ke permukaan

Ikan lebih agresif, normal, kemudian mendiami suatu sisi Ikan bergerak pasif, 1 ekor mengambang, 2 diam di dasar akuarium Ikan diam, kurang aktif, gerakan operculum lebih cepat
30 Ikan tenang Semua ikan tenang, bukaan operculum lebih cepat dan lebar (1 ikan) Ikan stress, ikan berdiri tegak, ikan menjauhi aerator Ikan berenang cepat, diam di satu sisi, berubah warna menjadi pucat 2 ekor ikan bergerak aktif kemudian diam di dasar, 1 diam di dasar dan mendekati aerasi Ikan diam, mulut terbuka
45 1 ikan aktif, 2 ikan tenang Ikan tenang semua, operculum bergerak lebih cepat dan memerah Ikan mendekati aerator, cenderung diam dan menjauhi busa Ikan stress dan iritasi, warna pucat, cenderung diam 1 ekor ikan bergerak aktif dan 2 ikan lainnya mengambang Ikan diam, berada di dasar akuarium dan mendekati aerator
60 1 ikan aktif, 2 ikan tenang Ikan  tenang, operculum bergerak cepat, ikan mulai mabuk (keseimbangan ikan berkurang) Ikan berdiri tegak, ada yang mendekati aerator, sirip ikan ada yang rusak, dan ada 1 lele mati : 2,36 gr Ikan mengalami iritasi, kulirt terkelupas hingga berdarah Semua ikan bergerak aktif, cenderung bergerak ke permukaan. Ada bagian tubuh yang membengkak, 1 ekor ikan mati Ikan aktif di dekat aerator
12.00 WIB Ikan tenang Ikan sress, operculum cepat Ikan mati 2 ekor Ikan cenderung diam, warna tubuh pucat, mendekati aerasi Semua ikan mati Ikan mati 2 ekor
15.00 WIB Ikan tenang di dasar akuarium Ikan stress, berenang ke permukaan, sirip dan bagian tubuhnya berdarah Ikan tidak ada (habis) Kulit mengelupas, warna kulit pucat, sungut menegang Ikan tidak ada (habis) Mati 1
08.00 WIB 1 ikan aktif, 2 ikan tenang 1 ikan mati

ikan tenang

Ikan tidak ada (habis) Badan luka, kulit terkelupas, warna pucat Ikan tidak ada (habis) Ikan tidak ada (habis)
12.00 WIB Ikan tenang, berenang. Ikan tenang di dasar perairan, lebih aktif -bernafas Ikan tidak ada (habis) Sirip pucat dan kulit mengelupas Ikan tidak ada (habis) Ikan tidak ada (habis)
15.00 WIB Ikan tenang Ikan hampir mati Ikan tidak ada (habis) Sirip dan badan ikan pucat Ikan tidak ada (habis) Ikan tidak ada (habis)
08.00 WIB 1 ikan mati

2 ikan aktif

1 Ikan mati, 1 ikan stress Ikan tidak ada (habis) Ikan tidak ada (habis) Ikan tidak ada (habis)

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan lebih cepat mati pada kekeruhan dengan lumpur sebanyak 2 g/l.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup dengan perlakuan kekeruhan.

Tabel 35. Jumlah Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah Ikan Mas (Cyprinus carpio) Hidup Pada Perlakuan Kekeruhan
Kontrol 0.25 g/L Kontrol 0.5 g/L Kontrol 1 g/L Kontrol 1.5 g/L Kontrol 2g/L
15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
30 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
45 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
60 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
12.00 wib 3 3 3 0 0 0 3 3 3 3
15.00 wib 3 2 3 0 0 0 3 3 3 3
08.00 wib 3 2 3 0 0 0 3 3 3 3
12.00 wib 3 2 3 0 0 0 3 3 3 3
15.00 wib 3 2 3 0 0 0 3 3 3 3
08.00 wib 3 2 3 0 0 0 3 3 2 3
SR (%) 100 66.6 100 0 0 0 100 100 66.6 100
M (%) 0 33.3 0 100 100 100 0 0 33.3 0

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi pengurangan jumlah ikan pada beberapa perlakuan.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan perubahan bobot pada ikan lele (Clarias batrachus) dengan perlakuan kekeruhan.

Tabel 1. Perubahan Bobot Ikan Lele (Clarias batrachus)

Kekeruhan Bo (g) B1 (g) Δ B (g)
Kontrol 4.90 4.71 0.19
0,25 g/l 8.36 6.06 2.3
Kontrol 5.86
0,5 g/l 8.00 7.03 0.97
Kontrol 8,33 9,66 1,33
1 g/l 7,66 9,95 2,29
Kontrol 9.69 (tidak ditimbang)
1,5 g/l 8.11 7.2 0.91
Kontrol 7.31 6.79 0.34
2 g/l 6.53 6.23 0.3

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan lele mengalami penurunan bobot akibat perlakuan kekeruhan.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku  pada ikan lele (Clarias batrachus) dengan perlakuan kekeruhan.

Tabel 36. Tingkah Laku Ikan Lele

Waktu

(menit)

Tingkah laku ikan
Kontrol 0,25 g/l 0,5 g/l 1 g/l 1,5 g/l 2 g/l
15 Ikan mendekati aerasi, ikan lompat, bergerak aktif, mulut mengarah ke permukaan air Ikan sudah beradaptasi, saling terpisah Ikan berenang normal dan aktif di permukaan Ikan berenang stabil dibawah pemukaan, operkulum bergerak cepat. Ikan diam, normal Ikan bergerak cepat, mendekati aerasi, mengeluarkan feses
30 Ikan bergerak aktif,  mulut ikan mengarah ke permukaan, ikan mendekati aerasi Ikan aktif Ikan berenang normal Gerakan ikan lebih agresif. Ikan aktif bergerak Ikan bergerak cepat, feses bertambah, terjadi bercak putih
45 Mulut ikan menghadap ke atas, ikan mendekati sumber aerasi Ikan berada di dasar akuarium dan masih aktif Ikan berenang normal Gerakan ikan lebih agresif. Ikan aktif bergerak Ikan panik, naik ke permukaan, dan saling bertabrakan
60 Mulut ikan menghadap ke atas(mengarah ke permukaan) Ikan aktif Ikan berenang normal Ikan berenang didasar permukaan. Ikan aktif bergerak Ikan tidak terlihat, sesekali bergerak ke permukaan mendekati aerasi
12.00 WIB Ikan aktif, tetapi lebih sering diam, mengarah ke permukaan Ikan tetap aktif, pergerakan lamabat, operculum tidak stabil Ikan berenang lebih aktif dan 1 ikan mati : 3.79 g Mati Ikan bergerak aktif mendekati cahaya Ikan berenang aktif
15.00 WIB Ikan aktif, tetapi lebih sering diam, mengarah ke permukaan Ikan aktif, namun pergerakannya lambat. Ikan berenang normal Ikan bergerak aktif dan terkadang mendekati aerator Warna pucat, ikan diam
08.00 WIB Ikan aktif, tetapi lebih sering diam, mengarah ke permukaan, mati 1 ekor : 1.85 g, operculum luka Ikan diam, operculum tidak stabil Ikan berenang di permukaan Ikan bergerak ke daerah yang lebih terang Ikan diam
12.00 WIB Ikan aktif, tetapi lebih sering diam, mengarah ke permukaan Ikan diam, mulut mengarah ke permukaan Ikan berenang normal Ikan bergerak aktif Ikan kesulitan bernapas mendekati aerator
15.00 WIB Ikan aktif, tetapi lebih sering diam di sekitar aerator Ikan cenderung diam Ikan berenang aktif Ikan bergerak tetapi tidak terlihat begitu jelas Lendir lebih banyak
08.00 WIB Ikan aktif, cenderung diam, mendekati aerator, , mulut mengarah ke permukaan Mulut mengarah ke permukaan Ikan berenang aktif 2 mati : 4.49 gr

Dari tabel di atas terlihat bahwa ikan cenderung melemas.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah pada ikan lele (Clarias batrachus) yang hidup dengan perlakuan kekeruhan.

Tabel 37. Jumlah ikan lele yang Hidup Terhadap Waktu

Waktu

(menit)

Jumlah ikan lele pada perlakuan kekeruhan
Kontrol 0.25 g/L Kontrol 0.5 g/L Kontrol 1 g/L Kontrol 1.5 g/L Kontrol 2g/L
15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
30 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
45 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
60 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
12.00 wib 3 3 3 2 0 0 3 3 3 3
15.00 wib 3 3 3 2 0 0 3 3 3 3
08.00 wib 2 3 3 2 0 0 3 3 3 3
12.00 wib 2 3 3 2 0 0 3 3 3 3
15.00 wib 2 3 3 2 0 0 3 3 3 3
08.00 wib 2 3 3 2 0 0 3 3 3 1
SR (%) 66.6 100 100 66.6 0 0 100 100 100 33.33
M (%) 33.3 0 0 33.3 100 100 0 0 0 66.67

Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi pengurangan jumlah ikan akibat kekeruhan.


3.2 Pembahasan

Organisme akuatik seperti ikan telah beradaptasi pada suhu lingkungan tertentu. Suhu rendah di bawah normal dapat menyebabkan ikan mengalami lethargi, kehilangan nafsu makan, dan menjadi menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Dan sebaliknya pada suhu yang tinggi membuat ikan mengalami stress pernapasan dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan insang permanen.

Peningkatan suhu perairan sebesar 100C menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2-3 kali lipat. Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi (Effendi 2003).

Pada percobaan kali ini digunakan ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan lele (Clarias batracus). Pada perlakuan terhadap suhu panas, ternyata suhu panas memberikan pengaruh terhadap perubahan bobot ikan dimana pada suhu 350C dan 400C ikan mengalami pertambahan bobot. Tetapi pada suhu 450C ikan justru mengalami penurunan bobot. Berarti ikan masih dapat beradaptasi pada suhu 350C dan 400C tetapi pada suhu 450C ikan sudah tidak bisa beradaptasi lagi sehingga menyebabkan bobotnya turun. Hal ini disebabkan karena suhu tinggi dapat menyebabkan kekeringan sel akibat penguapan, sehingga kekentalan protoplasmanya meningkat (Effendi 2003). Tingkah laku ikan mas pada suhu 350C, 400C, 450C cenderung aktif namun pada suhu 450C  ikan banyak yang kulitnya mengalami kerusakan dan ikan mendekati aerator. Kulit yang mengalami kerusakan disebabkan karena pada suhu tersebut terjadi pengeringan sel pada ikan karena penguapan dan ikan mendekati aerator karena kandungan oksigen terlarut di akuarium  mulai berkurang sehingga ikan mendekati aerator. Pada tabel 3 diketahui bahwa pada kontrol, suhu 350C, dan gradual kelangsungan hidup ikan mas sebesar 100%. Tapi pada suhu 400C dan 450C mortalitasnya sebesar 100%. Dari data ini berarti diketahui bahwa kisaran toleransi suhu pada ikan mas yang mematikan adalah pada suhu 350C. Pada suhu 350C kandungan oksigen terlarut sudah mulai sedikit dan tidak cukup untuk kebutuhan ikan yang ada di akuarium sehingga ikan menjadi mati.

Pada perlakuan suhu panas terhadap ikan lele (Clarias batracus) suhu panas juga memberikan pengaruh pertambahan bobot dimana pada kontrol dan gradual bobotnya bertambah sedangkan pada suhu 350C, 400C, dan 450C bobotnya tetap. Hal ini berarti ikan lele masih bisa beradaptasi  pada suhu 400C sekalipun dan bobotnya juga tidak turun. Tingkah laku ikan lele pada suhu panas masih bisa untuk bergerak namun perlahan lahan bagian kulitnya ada yang rusak atau terluka. Pada suhu 450C ikan lele mati dalam waktu kurang dari 1 menit. Selain itu pada suhu 400C ikan lele mati dalam waktu di atas 1 menit. Hal ini disebabkan adanya penguapan sehingga selnya menjadi kering dan oksigen terlarut yang sudah sedikit akibat suhu yang panas sehingga menyebabkan ikan menjadi mati. Pada tabel 6 diketahui bahwa pada kontrol dan suhu 350C kelangsungan hidup ikan lele sebesar 100%. Tapi pada suhu 400C dan 450C mortalitasnya sebesar 100%. Pada gradual kelangsungan hidup sebesar 33,3% dan mortalitasnya sebesar 66,6%. Hal ini menunjukkan bahwa kisaran toleransi suhu panas pada ikan lele yaitu sebesar 400C. Bila dibandingkan dengan ikan mas, kisaran toleransi ikan lele lebih besar yakni 40%. Hal ini disebabkan karena ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yaitu arboresen yang menyebabkan ikan lele bisa beradaptasi pada kondisi yang lebih ekstrim dibandingkan dengan ikan mas dan juga memiliki kisaran toleransi yang lebih baik.

Pada perlakuan suhu dingin memberikan pengaruh terhadap bobot ikan yang bisa dilihat pada tabel 7 dan 10. Bobot ikan mas mengalami penurunan akibat respon ikan mas terhadap lingkungannya yang baru dan adanya aktivitas yang berlebihan dalam rangka beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Penurunan suhu akan menghambat proses fisiologis bahkan menyebabkan hewan tidak aktif dan lebih jauh dapat menyebabkan kematian karena proses fisiologis menurun maka kandungan air dalam tubuh berkurang dan menyebabkan penurunan bobot tubuh ikan (Effendi 2003). Tingkah laku ikan pada suhu dingin lebih banyak diam dan pingsan. Hal ini terjadi karena terhambatnya proses fisiologis ikan sehingga ikan lebih banyak diam dan pingsan. Kelangsungan hidup pada kontrol, suhu 200C, dan gradual sebesar 100% namun pada suhu 100C dan 50C mortalitasnya mencapai 100%. Hal ini berarti suhu 100C merupakan kisaran toleransi yang mematikan untuk ikan mas.

Dalam menentukan kualitas air pH berperan sangat penting sebagai parameter karena pH mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di air. .Pada perlakuan asam terhadap perubahan bobot ikan mas dan ikan lele mempunyai pengaruh terhadap bobot ikan mas dan ikan lele. Bobot ikan mas dan lele mengalami penurunan pada pH asam. Hal ini mungkin disebabkan respon ikan mas dan ikan lele terhadap pH asam dan adanya aktifitas fisiologis yang berlebihan dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Agar proses fisiologis dalam tubuh berjalan normal, maka diperlukan suatu tekanan osmotic yang konstan. Pertumbuhan ikan dapat berlangsung dengan baik jika salinitas media mendekati konsentrasi ion dalam darahnya (Rahardjo 1980 dalam Damayanti 2003). Tingkah laku ikan mas yang paling terlihat yaitu ikan mengeluarkan lendir. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas dan lele pada kontrol sebesar 100% namun pada pH 2, 3, dan 4 mortalitasnya sebesar 100%. Hal ini berarti pH 4 merupakan kisaran toleransi yang mematikan bagi ikan mas. Dengan adanya penurunan pH menyebabkan ikan keracunan dan mati. Kisaran pH perairan yang cocok antara 5 – 8,7. Pada kisaran pH tersebut cukup memenuhi syarat untuk kehidupan ikan (Cahyono 2001).

Pada perlakuan pH basa terhadap ikan mas dan ikan lele, memberikan pengaruh terhadap perubahan bobot ikan mas dan ikan lele. Pada tabel 18 dan 21 terlihat bahwa bobot ikan mas dan ikan lele mengalami penurunan. Tingkah laku dari ikan mas dan ikan lele cenderung melemah dari waktu ke waktu. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas pada kontrol, pH 7, 8, 9 sebesar 100% namun pada gradual mortalitasnya sebesar 100%. Hal ini disebabkan karena pH tersebut masih dalam kisaran pH yang cocok untuk ikan sehingga kelangsungan hidupnya tinggi namun tidak pada gradual. Pada ikan lele tingkat kelangsungan hidup pada kontrol sebesar 100%, pH 7 dan 8 sebesar 80 %, pH 9 sebesar 60% dan gradual sebesar 20%. Ikan lele yang mati tersebut mungkin disebabkan dari kondisi ikan lele itu sendiri yang sedang tidak baik. pH 7, 8, 9 masih merupakan kisaran toleransi yang baik bagi ikan lele dan ikan mas dimana ikan ikan tersebut masih bisa untuk beradaptasi.

Pada perlakuan salinitas belum bisa diketahui apakah terjadi perubahan bobot atau tidak karena data yang tidak lengkap baik ikan mas ataupun ikan lele. Tingkah laku dari ikan mas dan lele yang paling terlihat yaitu pembengkakkan pada operkulum. Hal ini mungkin disebabkan karena ikan mas dan ikan lele merupakan ikan air tawar. Nilai salinitas pada air tawar biasanya di bawah 0,5 ppt (Effendi 2003). Sehingga akibat perbedaan salinitas tersebut membuat operculum ikan mas dan lele menjadi membengkak. Kisaran toleransi yang baik untuk ikan mas dan lele berarti di bawah 0,5 ppt. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas dan lele belum bisa diketahui karena data yang belum lengkap.

Perlakuan detergen terhadap ikan mas dan  ikan lele memberikan pengaruh terhadap perubahan bobot ikan mas dan ikan lele. Perubahan yang terjadi yaitu berupa penurunan bobot ikan. Pada tabel 27 terlihat bahwa deterjen dengan 10 ppm dan 80 ppm mengurangi bobot ikan mas, namun pada 30 ppm dan 70 ppm terjadi peningkatan bobot.  Pada tabel 30 ikan lele juga mengalami penurunan bobot pada 80 ppm, namun mengalami kenaikan bobot pada 10, 30, 70 ppm. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas 100% pada 10 ppm, dan mortalitas 100% pada 30, 70, 80 ppm. Pada ikan lele tingkat kelangsungan hidupnya 33,3% pada 10 ppm dan mortalitas sebesar 100% pada 10, 30,  70, 80 ppm. Kisaran toleransi 10 ppm sudah bisa mematikan. Tingkah  laku ikan mas pada setiap ppm tidak jauh berbeda yaitu melemas, pucat, dan kulit terkelupas. Pada lele pun demikian. Deterjen mengandung bahan kimia yang disebut surfaktan deterjen. Surfaktan adalah bahan kimia organik sintetis yang banyak digunakan dalam deterjen, produk perawatan, dan bahan pembersih dalam rumah tangga. Surfaktan di dalam perairan dapat menimbulkan rusaknya organ kemoreseptor, berubah pola makan, pertumbuhan lambat dan tingkat kelangsungan hidup larva yang rendah (Abel, 1974). Menurut Wilbert (1971) pada konsentrasi 5 mg/L Dodecylbenzene Sulfonate dapat menyebabkan pengurangan epitel insang pada ikan. Pada konsentrasi yang sama, lamella insang cenderung bersatu. Semakin besar konsentrasi surfaktan yang diberikan maka semakin besar pula kerusakan sel epitelnya. Efek negatif tersebut dapat bersifat akut atau kronis/subkronis, tergantung pada jangka waktu pemaparan zat yang dapat mematikan 50% atau lebih populasi biota yang terpapar (Mangkoedihardjo, 1999). Bila surfaktan deterjen tersebut sudah melebihi ambang batas bisa menyebabkan kematian pada biota.

Perlakuan kekeruhan terhadap ikan mas dan ikan lele memberikan pengaruh terhadap perubahan bobot ikan. Pada ikan mas kekeruhan dengan lumpur 0,25 g/l, 0,5 g/l dan 2 g/l memberikan pengaruh berupa penurunan bobot sedangkan pada 1 g/l dan 1,5 g/l memberikan pengaruh berupa kenaikan bobot. Pada ikan lele cenderung berpengaruh dalam penurunan bobot. Peningkatan bobot  disebabkan ikan menghasilkan lender secara berlebihan akibat infeksi insang karena padatan tersuspensi dalam air sehingga mempengaruhi bobotnyasaat ditimbang. Tingkah laku  ikan mas cenderung melemah, tubuh pucat, mendekati aerator dan banyak ikan yang mati. Pada ikan lele juga demikian. Tingkat kelangsungan hidup ikan mas sebesar 100% pada 1,5 g/l dan 2 g/l namun mortalitas sebesar 100% pada 0,5 g/l dan 1g/l. Pada ikan lele tingkat kelangsungan hidupnya sebesar 100% pada 0,25 g/l, dan 1,5 g/l. sedangkan mortalitas sebesar 100% pada 1 g/l dan 66,67 pada 2 g/l. dengan semakin keruhnya air maka ikan semakin sulit untuk bernapas karena proses penyaringan air oleh insang terhambat sehingga dapat menyebabkan kematian. Kisaran toleransi 1 g/l sudah dapat mematikan pada percobaan kali ini.

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat

dalam air. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik

yang tersuspensi dan terlarut, maupun bahan organik dan anorganik yang berupa mikroorganisme (APHA; Davis dan Cornwell dalam Effendi, 2003).

IV. KESIMPULAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Organisme akuatik khususnya ikan memiliki respon yang berbeda beda seperti perubahan bobot, tingkah laku, dan tingkat kelangsungan hidup terhadap perubahan berbagai variabel lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, detergen dan kekeruhan yang memiliki kisaran toleransi yang berbeda-beda.

4.2 Saran

Sebaiknya digunakan ikan yang lebih besar agar dapat teramati dengan jelas yang terjadi pada tubuh ikan selama pengamatan.


DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2008. Salinitas. www.o-fish.com. [8 Maret 2011].

[Anonim]. 2009. Pengaruh Kekeruhan pada Ikan. www.damandiri.or.id. [7 Maret 2011].

Cahyono, Bambang. 2001. Budi Daya di Perairan Umum. Yogyakarta: Kanisius

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan

Lingkungan Perairan. Jakarta: Kanisius.

Yudhistira, Angga. 2009. Program Kreativitas Mahasiswa Respon Organisme Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan (Ph, Suhu, Kekeruhan dan Detergen). http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/19820. [7 Maret 2011]


LAMPIRAN

www.o-fish.com

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/19820

PostHeaderIcon Kontraksi Otot Jantung



I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan suatu makhluk hidup, jantung merupakan salah satu organ tubuh yang paling. Jantung merupakan suatu pembesaran massa otot yang spesifik dari pembuluh darah yang bentuknya seperti piramida serta diselimuti oleh kantung perikardial. Jantung pada ikan memiliki dua kamar, yaitu satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Sistem jantung pada ikan merupakan organ sirkulasi darah dalam tubuh. Kontraksi otot jantung ikan yang ditimbulkan merupakan sarana untuk mengkonversi energi kimiawi menjadi mekanik dalam bentuk tekanan dan aliran darah.

Jantung sangat berperan penting dalam hubungannya dengan pemompaan darah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah. Sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagian-bagian jaringan-jaringan tubuh (Groman 1982 in Affandi dan Tang 2002).

Oleh karena pentingnya organ jantung terhadap kelangsungan hidup ikan, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana kerja otot jantung pada ikan dan juga mengetahui ketahanan jantung ikan di luar tubuhnya.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengamati bagaimana kerja otot jantung tanpa pengaruh organ tubuh lain, membuktikan bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja seperti otot polos (di luar kesadaran) serta mengetahui ketahanan jantung ikan di luar tubuh.

II. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Maret 2011 bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan Air pukul 08.00 – 11.00 WIB. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat bedah, cawan petri, baki, stopwatch, lap/tissue, kaca pembesar dan alat tulis. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah ikan mas (Cyprinus carpio), larutan fisiologis, aquades, dan larutan garam.

2.3 Prosedur Kerja

Ikan mas dipingsankan terlebih dahulu, bagian medulla oblongata ditusuk. Ikan dibedah dengan gunting bedah mulai dari anus ke arah depan hingga insang, kemudian gunting ke arah permukaan sirip dorsal. Pisahkan organ jantung dengan menggunakan pinset dan letakkan pada larutan fisiologis/aquades/larutan garam. Detak jantung dihitung setiap menit sampai jantung tidak berdetak lagi.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar dan kecil pada media akuades oleh kelompok 1 dan 6.

Tabel 1. Jumlah Detak Jantung Ikan Mas (Cyprinus carpio) Besar/Kecil pada media Akuades

menit ke- kelompok 1 kelompok 6
ikan besar ikan kecil ikan besar ikan kecil
1 26 47 50 41
2 22 32 39 29
3 22 37 34 26
4 22 29 32 36
5 23 23 28 34
6 23 44 24 40
7 23 41 23 42
8 3 49 21 36
9 24 48 20 32
10 24 58 18 30
11 17 46 16 29
12 15 34 15 10
13 20 17 14 3
14 14 11 14 3
15 16 21 14 6
16 14 23 14 7
17 9 17 13 5
18 8 17 13 5
19 6 20 14 4
20 4 11 15 2
21 6 12 15 3
22 6 2 14 2
23 4 0 15 1
24 4 0 12 3
25 4 0 11 2
26 3 0 12 2
27 1 0 11 3
28 2 0 11 2
29 5 0 11 4
30 4 0 12 0
31 2 0 10 4
32 0 0 10 0
33 2 0 10 9
34 0 0 10 4
35 1 0 9 3
36 1 0 8 1
37 1 0 4 0
38 2 0 0 0
39 1 0 0 0
40 2 0 0 0
41 2 0 0 0
42 1 0 0 0
43 2 0 0 0
44 2 0 0 0
45 2 0 0 0
46 1 0 0 0
47 0 0 0 0
48 2 0 0 0
49 0 0 0 0
50 0 0 0 0
51 0 0 0 0
52 1 0 0 0
53 0 0 0 0
54 2 0 0 0
55 1 0 0 0
56 0 0 0 0
57 0 0 0 0
58 0 0 0 0
59 0 0 0 0
60 1 0 0 0

Grafik 1. Grafik hubungan waktu dengan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar/kecil pada media akuades

Berdasarkan tabel 1 dan gambar 1, terlihat hubungan antara lamanya jantung di luar tubuh ikan mas besar selama 60 menit dengan banyaknya denyut jantung ikan tersebut pada media akuades. Terlihat bahwa pada menit awal ketika jantung dimasukkan ke media akuades, denyut jantung relatif cepat dan semakin lama denyut jantung semakin menurun dan kembali meningkat lalu kembali menurun lagi. Secara umum, semakin lama jantung berada di luar tubuh, maka denyut jantung semakin menurun hingga tidak berdetak lagi.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar dan kecil pada media larutan fisiologis.

Tabel 2. Jumlah Detak Jantung Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada media larutan fisiologis

menit ke- kelompok 2 kelompok 7
ikan besar ikan kecil ikan besar ikan kecil
1 7 32 79 51
2 1 42 76 58
3 4 60 85 64
4 2 65 85 86
5 0 71 82 98
6 10 71 70 110
7 40 65 80 100
8 38 60 80 107
9 38 53 73 100
10 33 47 67 106
11 34 45 57 102
12 30 42 16 90
13 33 39 20 92
14 35 37 21 90
15 38 35 20 88
16 29 33 21 73
17 52 12 18 54
18 42 0 18 19
19 42 0 18 22
20 46 0 18 24
21 42 0 15 16
22 43 0 16 11
23 46 0 15 13
24 36 0 15 14
25 29 0 14 13
26 23 0 14 15
27 16 0 12 18
28 1 0 11 14
29 11 0 12 16
30 14 0 10 13
31 10 7 12 16
32 9 6 10 15
33 10 7 11 15
34 8 8 10 14
35 8 0 11 14
36 7 9 8 15
37 7 11 8 15
38 2 9 7 14
39 1 8 9 15
40 0 10 6 18
41 2 2 9 16
42 1 6 5 18
43 0 5 8 11
44 2 4 6 18
45 0 8 6 17
46 0 9 5 11
47 0 10 5 17
48 0 6 6 13
49 0 7 5 16
50 0 9 4 15
51 1 7 4 20
52 0 6 4 18
53 0 9 7 17
54 0 5 5 17
55 0 3 4 15
56 0 4 5 15
57 1 7 3 15
58 0 4 1 16
59 0 2 2 16
60 0 4 4 15

Grafik 2. Grafik hubungan waktu dengan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar/kecil pada media air fisiologis

Berdasarkan tabel 2 dan gambar 2, terlihat hubungan antara lamanya jantung di luar tubuh ikan mas besar selama 60 menit dengan banyaknya denyut jantung ikan tersebut pada media larutan fisiologis. Terlihat bahwa pada menit awal ketika jantung dimasukkan ke media larutan fisiologis, denyut jantung relatif cepat dan semakin lama denyut jantung semakin meningkat dan kemudian jumlah detak jantung semakin menurun, lalu meningkat lagi dan menurun lagi. Walaupun sudah melewati waktu selama 60 menit, jantung masih berdetak kecuali pada ikan mas besar kelompok 2.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar dan kecil pada media 3 ppt.

Tabel 3.  Jumlah Detak Jantung Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada media 3 ppt

menit ke- kelompok 3 kelompok 8
Ikan besar Ikan kecil Ikan besar Ikan kecil
1 6 60 21 63
2 3 53 13 60
3 1 60 13 54
4 1 61 17 45
5 2 60 16 39
6 1 60 32 34
7 2 68 44 32
8 2 65 45 31
9 2 52 50 29
10 1 65 83 29
11 1 61 44 27
12 1 60 50 27
13 1 53 47 27
14 3 50 50 27
15 1 49 50 26
16 0 47 49 26
17 1 48 43 26
18 2 32 39 25
19 0 51 37 25
20 1 46 35 23
21 0 43 30 23
22 1 46 30 24
23 0 44 28 24
24 0 38 0 10
25 0 33 0 39
26 1 43 0 30
27 0 41 0 33
28 1 36 0 34
29 0 23 0 32
30 0 20 0 33
31 1 16 0 33
32 0 10 0 31
33 0 8 0 31
34 0 11 0 28
35 0 12 0 29
36 0 9 0 28
37 0 13 0 27
38 0 29 0 25
39 0 43 0 9
40 3 55 0 10
41 0 55 0 17
42 0 55 0 0
43 0 60 0 25
44 0 60 0 4
45 1 59 0 9
46 1 54 0 15
47 0 45 0 2
48 0 34 0 22
49 0 33 0 8
50 2 36 0 13
51 3 30 0 13
52 3 30 0 18
53 1 30 0 16
54 1 30 0 25
55 0 31 0 14
56 0 30 0 25
57 0 30 0 13
58 3 30 0 15
59 1 30 0 13
60 1 28 0 14

Grafik 3. Grafik hubungan waktu dengan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar/kecil pada media 3 ppt

Berdasarkan tabel 3 dan gambar 3, terlihat hubungan antara lamanya jantung di luar tubuh ikan mas besar selama 60 menit dengan banyaknya denyut jantung ikan tersebut pada media 3 ppt. Terlihat bahwa pada menit awal ketika jantung dimasukkan ke media 3 ppt, denyut jantung relatif cepat dan semakin lama denyut jantung semakin menurun dan kembali meningkat lalu kembali menurun lagi. Ikan mas besar kelompok 3 selama 60 menit jumlah detak jantungnya sedikit, dibawah 10 tiap menitnya. Secara umum jantung ikan masih tetap berdetak meskipun sudah melewati 60 menit kecuali ikan mas besar kelompok 8.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar dan kecil pada media 6 ppt.

Tabel 4.  Jumlah Detak Jantung Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada media 6 ppt

menit ke- kelompok 4 kelompok 9
ikan besar ikan kecil ikan besar ikan kecil
1 25 27 29 19
2 30 50 27 15
3 31 34 26 3
4 36 39 26 0
5 36 40 26 0
6 36 42 27 0
7 37 70 26 0
8 36 72 26 0
9 34 78 25 1
10 22 66 24 0
11 33 62 24 0
12 28 60 22 0
13 29 44 21 0
14 26 36 20 13
15 24 39 19 10
16 24 19 18 15
17 22 2 17 11
18 22 0 15 11
19 22 0 15 16
20 22 0 13 12
21 21 0 13 18
22 20 0 12 19
23 21 0 13 15
24 19 0 11 14
25 19 0 10 19
26 21 0 5 25
27 19 0 12 19
28 22 0 6 22
29 16 0 8 11
30 20 0 7 3
31 17 0 7 6
32 13 0 6 0
33 12 0 7 0
34 12 0 4 13
35 12 0 5 26
36 12 0 7 37
37 10 0 7 45
38 11 0 3 38
39 10 0 4 40
40 10 0 6 42
41 11 0 0 40
42 8 0 6 43
43 9 0 2 46
44 8 0 5 42
45 8 0 1 42
46 7 0 6 42
47 7 0 3 50
48 8 0 3 30
49 6 0 4 30
50 7 0 1 17
51 6 0 1 9
52 8 0 15 1
53 4 0 0 2
54 7 0 0 0
55 9 0 17 0
56 6 0 0 0
57 9 0 3 0
58 8 0 9 0
59 5 0 0 0
60 6 0 7 0

Grafik 4. Grafik hubungan waktu dengan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar/kecil pada media 6 ppt

Berdasarkan tabel 4 dan gambar 4, terlihat hubungan antara lamanya jantung di luar tubuh ikan mas besar selama 60 menit dengan banyaknya denyut jantung ikan tersebut pada media 6 ppt. Terlihat bahwa pada menit awal ketika jantung dimasukkan ke media 6 ppt, denyut jantung relatif cepat dan semakin lama denyut jantung semakin menurun dan kembali meningkat lalu kembali menurun lagi. Pada ikan mas kecil sebelum menit ke 60, jantung ikan sudah tidak berdetak lagi. Sebaliknya pada ikan mas besar jantung masih tetap berdetak meskipun sudah melewati menit 60.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar dan kecil pada media 12 ppt.

Tabel 5.  Jumlah Detak Jantung Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada media 12 ppt

menit ke- kelompok 5 kelompok 10
ikan besar ikan kecil ikan besar ikan kecil
1 25 41 40 83
2 29 34 40 77
3 31 30 41 66
4 31 30 43 60
5 31 30 41 57
6 29 33 44 47
7 27 32 45 37
8 27 33 50 20
9 20 29 47 18
10 19 25 48 15
11 18 29 46 15
12 16 30 50 15
13 12 30 45 15
14 10 33 50 14
15 7 32 41 13
16 7 24 45 14
17 4 33 45 13
18 4 33 43 14
19 3 35 46 15
20 3 29 41 14
21 2 15 42 11
22 2 0 43 10
23 1 0 43 12
24 1 0 40 11
25 0 0 31 12
26 0 0 26 8
27 0 0 23 8
28 0 0 30 8
29 0 0 17 7
30 0 0 12 7
31 0 0 10 7
32 0 0 0 7
33 0 0 0 8
34 0 0 0 8
35 0 0 0 7
36 0 0 0 9
37 0 0 0 7
38 0 0 0 6
39 0 0 0 6
40 0 0 0 5
41 0 0 0 7
42 0 0 0 10
43 0 0 0 0
44 0 0 0 0
45 0 0 0 0
46 0 0 0 0
47 0 0 0 0
48 0 0 0 0
49 0 0 0 0
50 0 0 0 0
51 0 0 0 0
52 0 0 0 0
53 0 0 0 0
54 0 0 0 0
55 0 0 0 0
56 0 0 0 0
57 0 0 0 0
58 0 0 0 0
59 0 0 0 0
60 0 0 0 0

Grafik 5. Grafik hubungan waktu dengan jumlah detak jantung ikan mas (Cyprinus carpio) besar/kecil pada media 12 ppt

Berdasarkan tabel 5 dan gambar 5, terlihat hubungan antara lamanya jantung di luar tubuh ikan mas besar selama 60 menit dengan banyaknya denyut jantung ikan tersebut pada media 12 ppt. Terlihat bahwa pada menit awal ketika jantung dimasukkan ke media akuades, denyut jantung relatif cepat dan semakin lama denyut jantung semakin menurun dan kembali meningkat lalu kembali menurun lagi. Secara umum detak jantung ikan sudah berhenti sebelum mencapai menit ke 60.

3.2 Pembahasan

Berdasarkan data yang telah didapatkan terlihat bahwa terdapat perbedaan jumlah detak jantung ikan antara ikan besar dengan ikan kecil. Pada ikan besar jumlah detak jantung lebih sedikit namun dapat bertahan lebih lama karena energi pada jantung lebih banyak pada ikan besar. Pada ikan kecil detak jantungnya lebih banyak dan cepat namun lebih cepat pula jantungnya berhenti berdetak, ini karena energi pada jantung ikan kecil lebih sedikit daripada ikan besar. Semakin besar bobot ikan maka ukuran jantungnya juga semakin besar sehingga darah yang terkandung atau dialirkan oleh jantung semakin banyak. Darah mengangkut O2 dan zat-zat penting untuk diedarkan ke seluruh tubuh, ini berarti dalam darah terdapat energi maka semakin besar ukuran ikan, kandungan di dalam darah semakin melimpah dan energi yang diangkutnya juga semakin banyak. Ada dua jenis energi yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi jantung yaitu energi kinetik yang menyebabkan darah mengalir dan energi yang tersimpan dalam pembuluh darah dan menimbulkan tekanan darah.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara umum waktu bertahannya otot jantung ikan pada ikan besar di luar tubuhnya lebih lama dibandingkan dengan ikan kecil. Hal ini terjadi karena ukuran dari ikan itu sendiri dimana pada ikan besar, energi yang dimiliki juga besar untuk bertahan di luar tubuhnya dan pada ikan kecil, energi yang dimilikinya sedikit sehingga lama waktu bertahan otot jantung di luar tubuhnya lebih sebentar dibandingkan ikan besar.

Waktu bertahannya jantung ikan antara perlakuan yang satu dengan yang lain terdapat beberapa perbedaan. Pada media akuades jantung ikan dapat bertahan kurang dari 60 menit dimana ikan besar bertahan lebih lama dibandingkan dengan ikan yang kecil. Pada media larutan fisiologis jantung ikan mampu bertahan di atas 60 menit dimana jumlah detak jantung ikan kecil lebih banyak dibandingkan ikan besar. Pada media 3 ppt jantung ikan mampu bertahan di atas 60 menit kecuali ikan besar kelompok 8. Jumlah detak jantung ikan kecil lebih banyak dibandingkan dengan jumlah detak jantung ikan besar. Pada media 6 ppt jantung ikan besar mampu bertahan di atas 60 menit namun detak jantung ikan kecil  berdetak tidak sampai 60 menit. Pada media 12 ppt jantung ikan, baik ikan besar maupun ikan kecil hanya mampu bertahan kurang lebih selama 30 menit. Adanya perbedaan waktu bertahannya jantung ikan antara perlakuan yang satu dengan yang lain disebabkan adanya perbedaan pengaruh dari masing-masing media. Perbedaan tersebut mungkin juga disebabkan perbedaan lamanya pembedahan setelah ikan dipingsankan dan waktu pengambilan jantung ikan yang berbeda.

Jantung ikan masih bisa berdetak walaupun berada di luar tubuh tanpa adanya jaringan sistem saraf maka terbukti bahwa otot jantung adalah otot lurik dan bekerja tanpa sadar. Jantung terus berdetak walaupun semua syaraf yang menuju ke jantung dipotong. Hal ini disebabkan adanya jaringan permanen khusus dalam jantung yang berfungsi membangkitkan potensial aksi yang berulang (pace maker). Otot jantung ikan tetap berdetak meskipun jantung telah dikeluarkan dari tubuh ikan karena ikan memiliki tipe jantung meogenik. Jantung miogenik  denyutnya akan tetap ritmis meskipun hubungan dengan syaraf diputuskan. Bahkan bila jantung diambil selagi masih hidup dan ditaruh dalam larutan fisiologis yang sesuai akan tetap berdenyut. Jantung miogenik terdapat pada jaringan otot jantung khusus yang membuat simpul (nodal tissue) yang merupakan pacu jantung. Pada ikan letaknya pada sinus venosus. Denyut jantung terjadi secara spontan dimulai dari simpul SA lalu seluruh atrium berdenyut. Pada dasar sekat atrium terdapat simpul lain yang menerima rangsang karena ada impuls dari simpul SA, simpul tersebut disebut sebagai AV (atrio ventriculer). Dari simpul ini, impuls dilanjutkan melalui berkas hiss dan purkinye yang serabutnya menyebar pada ventrikel kira dan kanan. Dengan kemudian kedua ventrikel itu berdenyut bersama-sama (Affandi dan Tang 2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya energi yang tersimpan di dalam jantung, dan juga perbedaan osmotik antara cairan di dalam jantung dengan tekanan osmotik cairan di luar jantung (media perlakuan).

Larutan fisiologis berfungsi seperti cairan infus yakni untuk mengkondisikan seperti lingkungan yang sebenarnya. Kondisi larutan akan mempengaruhi lama bertahannya detak jantung. Larutan fisiologis digunakan karena larutan ini mirip dengan lingkungan dari jantung itu sendiri. Larutan fisiologis yang bersifat hipoosmotis menyebabkan cairan dari larutan masuk ke sel-sel otot jantung sehingga jantung menjadi mengembang. Sehingga cairan dalam sel mengalami dialisis, yaitu pecahnya sel-sel jantung sehingga proses metabolisme dan kerja jantung tergangggu. Larutan fisiologis yang bersifat hiperosmotik menyebabkan cairan akan keluar dari sel-sel jantung secara difusi sehinnga jantung mengerut dan berat jenisnya semakin besar dan akan mempengaruhi kerja otot jantung.


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Otot jantung ikan tetap berdetak meskipun jantung telah dikeluarkan dari tubuh ikan karena ikan memiliki tipe jantung meogenik. Otot jantung ikan adalah otot lurik yang bekerja seperti otot polos. Ketahanan jantung ikan di luar tubuh lebih tahan ikan yang besar daripada ikan yang kecil dan jumlah detakan jantungnya lebih banyak ikan yang kecil daripada ikan yang besar.

4.2 Saran

Sebaiknya ikan yang digunakan lebih dari satu spesies karena selain dapat membedakan ketahanan jantung ikan besar dan kecil, juga dapat membedakan ketahanan jantung antar spesies.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi R dan Tang U.M. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru : Unri Press.

Putri, FE. 2009. Kontraksi Otot Jantung Ikan. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/19985 [18 Maret 2011]

LAMPIRAN

Ikan mas (Cyprinus carpio)

Sumber: kkp.go.id

PostHeaderIcon Resume Perilaku Konsumen

PostHeaderIcon Osmoregulasi ikan

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan hidup pada kondisi dimana lingkungannya memiliki tekanan osmotik yang berbeda dengan tekanan osmotik cairan tubuhnya oleh karena itu dalam upaya menyesuaikan diri dengan lingkungannya diperlukan suatu pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung  dengan normal. Pengaturan tekanan cairan osmotik pada tubuh ikan ini  disebut osmoregulasi (Affandi dan Tang 2002).

Penyesuaian  ikan terhadap pengaruh lingkungan itu merupakan suatu homeostasis, dalam hal ini ikan akan mempertahankan keadaan yang stabil melalui suatu proses aktif melawan perubahan yang dimaksud. Homeostasis merupakan kecenderungan organisme hidup untuk mengontrol dan mengatur fluktuasi lingkungan internalnya (Affandi dan Tang 2002).

Osmoregulasi memiliki hubungan dengan pertumbuhan dalam hal penggunaan energi dimana hubungan tersebut bersifat berbanding terbalik. Meningkatnya penggunaan energi untuk osmoregulasi akan menurunkan porsi energi untuk pertumbuhan. Hal ini terkait kecenderungan bahwa osmoregulasi mutlak harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk tumbuh. Maka dari itu pertumbuhan akan maksimal pada kondisi salinitas yang optimal. Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan tentang salinitas optimum dimana ikan mampu untuk  memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangannya.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Praktikum ini bertujuan untuk mendapatkan salinitas optimum bagi pertumbuhan biota akuatik.

II. METODELOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan pada hari Rabu, jam 08.00 – 11.00 WIB, tanggal 9-11 Maret  2011, bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan

Alat alat yang digunakan adalah timbangan digital, akuarium, ember, aerator, stopwatch, lap/tissue, dan alat tulis. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah ikan mas, ikan nila, dan garam.

2.3 Prosedur Kerja

Siapkan 4 buah akuarium lalu isi dengan 10 liter air, kemudian aerator dipasang ke akuarium. Setelah itu garam disiapkan dan dilarutkan (3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, dan 30 ppt). Lalu larutan garam dimasukkan kedalam akuarium. Lalu 3 ekor ikan mas kontrol, 3 ekor ikan mas perlakuan, 3 ekor ikan nila kontrol, dan 3 ekor ikan nila perlakuan ditimbang dengan menggunakan timbangan digital, sebelumnya ikan telah dipuasakan selama 24 jam. Kemudian ikan dimasukkan kedalam akuarium. Tingkah laku ikan diamati tiap 15 menit selama 60 menit. Tingkah lakunya dicatat. Kemudian amati tingkah lakunya selama 3×24 jam setiap jam 08.00. 12.00, dan 15.00. Lalu bobot ikan yang mati ditimbang. Pada akhir percobaan ikan yang masih hidup ditimbang bobot akhirnya.

2.4 Analisis Data

Parameter yang diamati pada praktikum ini adalah

  • Kelangsungan Hidup (SR)

Keterangan :   Nt = Jumlah organisme pada percobaan

No = Jumlah organisme pada awal percobaan

  • Pertumbuhan Bobot Relatif (penurunan bobot) atau PBR selama pecobaan

Keterangan:   Wt = Berat rata-rata pada akhir percobaan

Wo = Berat rata-rata pada awal percobaan

  • Kriteria salinitas optimum didasarkan pada pertumbuhan bobot negatif (-) yang terkecil


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif kontrol pada ikan mas (Cyprinus carpio).

Tabel 1. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR dengan kontrol pada ikan Mas

Kontrol Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 17,04 9,29 -45,48 66,67
6 15,48 14,69 -5,10 100
9 4,72 5,02 6,36 100
12 18,68 19,52 4,50 0
15 1,81 1,64 -9,39 0
18 13,94 13,50 -3,16 100
21 4,68 4,39 -6,20 66,67
24 17,60 21,02 19,43 100
27 6,72 6,71 -9,92 100
30 12,85 12,54 -2,41 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa secara umum ikan mengalami penurunan bobot relatif.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif dengan berbagai perlakuan pada ikan  mas (Cyprinus carpio).

Tabel 2. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR dengan Berbagai Perlakuan Salinitas pada ikan Mas

Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 14,28 17,00 19,05 100
6 15,47 15,39 -0,52 100
9 3,14 3,02 -3,82 0
12 18, 88 16,51 -12,55 0
15 1,76 1,55 -11,72 0
18 14,69 13,30 -9,46 0
21 8,24 6,79 -17,60 0
24 14,65 13,82 -5,67 0
27 7,55 7,06 -6,49 0
30 12,46 11,32 -9,15 0

Dari tabel di atas terlihat bahwa secara umum ikan mengalami penurunan bobot relatifdan pada perlakuan 9 ppt tingkat kelangsungan hidup ikan mas sebesar 0%.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif kontrol pada ikan  nila (Oreochromis niloticus).

Tabel 3. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR kontrol pada ikan Nila

Kontrol Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 29,69 31,54 6,23 66,67
6 13,64 13,77 0,95 33,33
9 7,80 7,90 1,28 33,33
12 30, 50 30, 52 0,06 100
15 8,83 8,43 -4,53 33.33
18 34,27 30,67 -10,50 100
21 10,19 9,74 -4,42 100
24 33,65 41,04 21,96 33,33
27 11,59 11,76 1,47 100
30 32,49 31,04 -4,46 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa pada kontrol terdapat penurunan bobot maupun pertambahan bobot.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif dengan berbagai perlakuan pada ikan  nila (Oreochromis niloticus).

Tabel 4. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR dengan Berbagai Perlakuan Salinitas pada ikan Nila

Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 34,22 26,98 -21,16 66,67
6 12,76 12,68 -0,63 100
9 5,02 4,74 -5,58 100
12 39,03 28,25 -27,62 33, 33
15 8,05 7,44 -7,58 100
18 14,69 14,55 -0,95 33
21 9,08 8,83 -2,75 100
24 17,42 14,72 -15,50 0
27 11,47 10,48 -8,63 0
30 15,84 9,20 -41,92 0

Dari tabel di atas terlihat bahwa PBR paling besar terjadi pada perlakuan 30 ppt dan pada kondisi 24 ppt tingkat kelangsungan hidup ikan sudah 0%.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif dengan berbagai perlakuan pada ikan nila dan ikan mas dalam bentuk grafik.

Gambar 1. Grafik hubungan antara nilai PBR dengan tingkat salinitas berbeda

Dari grafik di atas terlihat bahwa pada ikan mas PBR awalnya bernilai positif namun mulai dari 6 ppt, PBR-nya bernilai negatif. Sedangkan pada ikan nila PBR-nya selalu bernilai negatif dan nilai PBR yang yang paling besar terjadi saat 30 ppt.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 3 ppt.

Tabel 5. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 3 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan  Mas

Akuarium 3 ppt

Ikan  Mas

Menit 15 Ikan berenang bebas, sangat aktif Gerak agresif, (gerak aktif)
Menit 30 Normal Operkulum berwarna merah, dengan gerak cepat
Menit 45 Pergerakan pasif, kondisi tubuh normal Operkulum berwarna merah, bukaan mulut mulai membesar dgn pergerakan lbh agresif (ada loncatan)
Menit 60 Pergerakan pasif, dekat aerator Pergerakan kurang aktif
Jam 12.00 hari Rabu Gerak normal, bergerombol Ikan bergerak agresif, mendekati aerator
Jam 15.00 hari Rabu Normal Normal
Jam 08.00 hari Kamis Normal Kulit memerah
Jam 12.00 hari Kamis Normal Berkumpul, tenang, aktifitas operkulum cepat
Jam 15.00 hari Kamis Pergerakan pasif Renang pasif, operkulum merah
Jam 08.00 hari Jumat Pergerakan pasif Pergerakan aktif, berkmpl dekat aerator
Jam 12.00 hari Jumat Normal Cenderung didasar 1 4,26 gr
Jam 15.00 hari Jumat normal normal

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas aktif dan normal seperti kontrol.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 6 ppt.

Tabel 6. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 6 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol Akuarium 6 ppt
Menit 15 Stabil Ikan berenang stabil
Menit 30 Stabil Ikan bergerak ke atas permukaan
Menit 45 Stabil Ikan loncat ke atas permukaan untuk mendapatkan oksigen
Menit 60 Stabil Ikan bergerak stabil di atas permukaan
Jam 12.00 hari Rabu stabil Berenang lebih lambat
Jam 15.00 hari Rabu Stabil Berenang lebih lambat
Jam 08.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan berenang mendekati aerator, permukaan air berbusa
Jam 12.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan mengeluarkan feses yang banyak
Jam 15.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan berenang di dasar permukaan
Jam 08.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan diam dan berkumpul
Jam 12.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan diam
Jam 15.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan cenderung berkumpul

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 6 ppt lebih banyak diam dan melambat.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  salinitas 9 ppt.

Tabel 7. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 9 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol Akuarium 9 ppt
Menit 15 Ikan berenang seperti biasa Ikan berenang mendekati aerator
Menit 30 Ikan berenang seperti biasa Pergerakan operkulum lebih cepat (membuka dan menutup)
Menit 45 Ikan berenang seperti biasa Bukaan operkulum lebih besar
Menit 60 Ikan berenang seperti biasa Air lebih keruh, dan aktifitas operkulum lebih cepat
Jam 12.00 hari Rabu ikan berenang seperti biasa ikan tenang, berenang seperti biasa
Jam 15.00 hari Rabu ikan-ikan tenang ikan bergerak aktif
Jam 08.00 hari Kamis ikan-ikan tenang ikan tenang, air di akuarium keruh
Jam 12.00 hari Kamis ikan-ikan tenang, mati 1 ekor ikan tenang, banyak feses 1 5,98
Jam 15.00 hari Kamis ikan-ikan tenang ikan tenang, ikan lebih pucat dibandig kontrol
Jam 08.00 hari Jumat ikan-ikan tenang, mati 1 ekor ikan tenang, berenang di dasar 1 5,04
Jam 12.00 hari Jumat ikan-ikan tenang ikan berenang aktif
Jam 15.00 hari Jumat ikan tenang, air di akuarium keruh, feses sedikit ikan tenang di sudut akuarium, banyak buih atau gelembung di permukaan air

Dari tabel diatas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada salinitas 9 ppt bukaan operculumnya lebih cepat dan mulai melemah dengan ikan mulai tenang di dasar serta terdapat 2 ekor ikan yang mati.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 12 ppt.

Tabel 8. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 12 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 12 ppt

Ikan Mas

Menit 15 Berenang normal Mulut membuka lebih lebar dan pergerakan operculum lebih cepat, berenang normal, dan feses lebih pekat
Menit 30 Berenang normal Mulut membuka lebih lebar dan pergerakan operculum lebih cepat, berenang agak lambat, dan feses lebih pekat
Menit 45 Berenang normal berenang agak lambat, operculum lebih cepat
Menit 60 Berenang normal berenang agak lambat, operculum lebih cepat, warna tubuh memucat
Jam 12.00 hari Rabu Berenang normal Pergerakan operculum lebih cepat, berenang aktif 2 7, 32

4, 83

Jam 15.00 hari Rabu Berenang normal Ikan mati 1 4, 36
Jam 08.00 hari Kamis Berenang Normal
Jam 12.00 hari Kamis Berenang Normal 1 7, 64
Jam 15.00 hari Kamis Berenang Normal 1 6,61
Jam 08.00 hari Jumat Berenang Normal
Jam 12.00 hari Jumat Berenang Normal
Jam 15.00 hari Jumat Berenang Normal 1 5, 27

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan pada perlakuan salinitas 12 ppt bukaan operculumnya cepat dan makin lama ikan melemah dan sampai jam 15.00 hari rabu ikan perlakuan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 15  ppt.

Tabel 9. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 15 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol Akuarium 15 ppt
Menit 15 Berenang normal bergerak aktif, mencari makan
Menit 30 berenang mendekati aerator Bergerak lebih aktif, operkulum lebih cepat
Menit 45 Normal, menjauhi aerator ikan di permukaan, 1 ikan kehilangan kesimbangan
Menit 60 ikan normal 1 ikan lebih aktif, 2 ikan kehilangan kesimbangan 3 4,67 gram
Jam 12.00 hari Rabu ikan pasif, warna air keruh sudah mati
Jam 15.00 hari Rabu pergerakan ikan melemah, diam didasar sudah mati
Jam 08.00 hari Kamis 2 ikan berenang aktif, 1 ikan hilang kendali sudah mati
Jam 12.00 hari Kamis 1 ikan mas oleng, 2 ikan berenang dengan pergerakan lambat sudah mati
Jam 15.00 hari Kamis 1 ikan hilang kendali, 2 ikan berenang pasif sudah mati
Jam 08.00 hari Jumat ikan berenang normal, sudah mati 1 1.75 gram
Jam 12.00 hari Jumat ikan mati semua, sudah mati 2 3.17 gram
Jam 15.00 hari Jumat Sudah mati sudah mati

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 15 ppt bukaan operculumnya lebih cepat dan pada menit 60 semua ikan perlakuan sudah mati.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 18 ppt.

Tabel 10. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 18 ppt

Tingkah Laku
Waktu Akuarium kontrol Akuarium 18 ppt ∑ Ikan mati Bobot ikan mati
Menit 15 Ikan aktif Ikan berenang aktif
Mengelilingi akuarium secara bergerombol Loncat-loncat dan berenang di permukaan
Bergerak di dasar Berenang ke arah aerator
Agresif dan bergerombol
Berkumpul di pojok
Menit 30 Ikan bergerombol Ikan diam
Bergerak ke sudut akuarium Mulut lebih lebar untuk mengambil oksigen
Berenang di dasar akuarium Mulut menghadap ke atas
Berenang di bawah aerator Insang mulai rusak
Pergerakan ikan tidak stabil/miring
Operkulum membengkak
Menit 45 Ikan tetap aktif Ikan mengambang miring
Peka terhadap ransangan Ikan megap-megap
Berada di dasar perairan Bergerak cepat, melambat dan menabrak aquarium
Mengambang dekat aerator
Menit 60 Ikan aktif Ikan loncat-loncat ke dasar
Bergerombol di dasar aquarium Ikan pingsan
Ikan mati 3 3 13,94 gram
Jam 12.00 hari Rabu Ikan bergerombol
Ikan aktif
Ikan berkumpul di sudut aquarium
Jam 15.00 hari Rabu Ikan sangat aktif
Ikan berkumpul di aquarium
Jam 08.00 hari Kamis Ikan bergerak aktif
Berenang bergerombol
Jam 12.00 hari Kamis Ikan bergerak aktif dan bergerombol dekat aerator
Terdapat banyak feses
Jam 15.00 hari Kamis Ikan bergerombol
Diam dekat aerator
Bergerak aktif
Jam 08.00 hari Jumat Ikan aktif
Ikan berenang bergerombol
Jam 12.00 hari Jumat Ikan aktif
Ikan berenang bergerombol
Feses ikan banyak
Jam 15.00 hari Jumat Ikan aktif dan bergerombol
Aktivitas menurun

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 18 ppt bukaan operculumnya lebih cepat, keseimbangannya berkurang, ikan pingsan dan pada menit ke 60 ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  21 ppt.

Tabel 11. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 21 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 21 ppt

Ikan Mas

Menit 15 Ikan bergerombol, menjauhi aerator, diam Ikan bergerak aktif, ikan menjauhi aerator, ikan megap-megap, bergerombol, berenang di permukaan, operculum bergerak cepat
Menit 30 Ikan tenang di bawah permukaan, bergerombol Ikan berenang di permukaan air, bergerombol, menjauhi aerator, ikan megap-megap
Menit 45 Ikan diam, di bawah permukaan, bergerombol Ikan megap-megap, ikan melemas, pergerakan operculum cepat
Menit 60 Ikan diam, bergerak lambat, lompat-lompat Ikan lemas, sisik mengelupas, ikan mati 2 9,04
Jam 12.00 hari Rabu Ikan cenderung diam di dasar, tidak banyak gerak, menjauhi aerator Ikan mati 1 11,35
Jam 15.00 hari Rabu Ikan cenderung diam di dasar
Jam 08.00 hari Kamis Tenang, feses banyak, bergerak ke permukaan
Jam 12.00 hari Kamis Cenderung diam, megap-megap
Jam 15.00 hari Kamis Ikan diam di dasar
Jam 08.00 hari Jumat Ikan diam di dasar
Jam 12.00 hari Jumat Ikan mati 1, cenderung diam di dasar 1 5,05
Jam 15.00 hari Jumat Cenderung diam, gerakan operculum cepat

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 21 ppt operculumnya bergerak cepat, ikan melemas, dan lama kelamaan ikan mas mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  salinitas 24 ppt.

Tabel 12. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 24 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan mas

Akuarium 24 ppt

Ikan mas

Menit 15 Ikan diam, cenderung pasif, tidak bergerak. Ikan bergerak aktif, operculum terbuka lebih lebar dari pertama di aklimatisasi, ikan pingsan, menit ke-5 terapung, menit ke-7 mengeluarkan feses, operculum pucat, ikan lemas, satu diantaranya melompat, tubuh tegang, ikan loncat dan akhirnya pingsan.
Menit 30 Ikan cenderung berenang ke aerator. Ikan mati 3 15,40
Menit 45 Ikan bergerak pasif.
Menit 60 Ikan tetap diam.
Jam 12.00 hari Rabu Ikan aktif, banayak bergerak, diam di aerasi,
Jam 15.00 hari Rabu Ikan bergerak bergerombol, diam di dasar, menuju aerasi
Jam 08.00 hari Kamis Bergerombol dibawah, bergerak normal/biasa
Jam 12.00 hari Kamis Bergerak normal, menuju aerasi, bergerombol
Jam 15.00 hari Kamis Ikan bergerombol, normal
Jam 08.00 hari Jumat Ikan aktif, bergerombol
Jam 12.00 hari Jumat Ikan aktif, bergerombol
Jam 15.00 hari Jumat Ikan aktif, bergerombol

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 24 ppt sejak menit awal dimasukkan ikan sudah menunjukkan tingkah laku melemah, operculumnya terbuka lebih cepat, pingsan dan akhirnya mati dalam waktu hanya 30 menit.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 27 ppt.

Tabel 13. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 27 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 27 ppt

Ikan Mas

Menit 15 ikan bergerombol di dasar akuarium ikan bergerak sangat aktif, operculum membuka dan menutup dengan sangat cepat, ikan loncat-loncat dan mengambang di permukaan. Posisi ikan mudah terbalik
Menit 30 ikan bergerombol di dasar akuarium tiga ikan mengambang di permukaan dengan posisi terbalik, terkadang loncat-loncat mendekati aerator, mengambang dan diam. Sisik banyak yang lepas, ikan mati dan berlendir 3 21,17

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 27 ppt bukaan operculumnya cepat, ikan kehilangan keseimbangan, berlendir dan pada menit ke 30 ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  salinitas 30 ppt.

Tabel 14. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 30 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 30 ppt

Ikan

Menit 15 Bergerak normal melompat lompat. Operculum terbuka lebar . menit pertama ikan mengapung. Sekarat. Operculum bergerak cepat. Kepermukaan. Ikan kehilangan keseimbangan. Mendekati aerator.operculum menghadap kepermukaan . ingin pingsan. Lompat lompat. Pergerakan operculum melambat pada menit ke-10. Ikan pingsan dan operculum berhenti bergerak.
Menit 30 Diam didasar bergerak normal. Sudah tidak dapat bergerak mengapung sedikit berlendir, sisik rusak pada menit ke-5 3 11,32
Menit 45 Bergerak normal berada didasar akuarium.
Menit 60 Ikan berada di aerator.
Jam 12.00 hari Rabu Bergerombol mendekati aerator

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan pada salinitas 30 ppt bukaan operculumnya cepat, ikan kehilangan keseimbangan, pingsan, berlendir dan pada menit ke 30 ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan salinitas 3 ppt.

Tabel 15. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 3 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 3 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Pergerakan pasif, didasar Cenderung diem, tdk bergerak, mendekati aerator, bergerombol, tenang didasar, (pergerakan pasif), mungkin penyesuain terhadap lingkungan baru
Menit 30 Pergerakan pasif, operkulum bergerak cepat Bergerak aktif, menyebar, bergerak normal
Menit 45 Pergerakan pasif, operkulum cepat Menyebar, pergerakan pasif, mengeluarkan feses
Menit 60 Feses makin banyak, menyebar, diam didasar Pergerakan normal, banyak feses, didasar
Jam 12.00 hari Rabu Diem, dekat aerator, banyak feses, terkadang agresif Banyak feses, pergerakan pasif, terlihat stres karena kotorannya
Jam 15.00 hari Rabu Normal dalam pergerakan Normal dalam pergerakannya
Jam 08.00 hari Kamis Mengeluarkan banyak feses, gerak pasif Gerak pasif, operkulum lebih cepat bergerak 1 2,74 gr
Jam 12.00 hari Kamis Operkulum cepat, tenang Berkumpul, didasar operkulum bergerak cepat
Jam 15.00 hari Kamis Renang pasif, dekat aerator Renang pasif, menyebar
Jam 08.00 hari Jumat Gerak aktif, operkulum lama Pergerakan pasif, operkulum lama pergerakannya,
Jam 12.00 hari Jumat Cenderung diam Pergerakan pasif, cenderung didasar 1 5,21
Jam 15.00 hari Jumat Normal, agresif Normal, agak egresif

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada perlakuan salinitas 3 ppt umumnya ikan cenderung normal dalam tingkah lakunya.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  6 ppt.

Tabel 16. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 6 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium 1

Ikan

Akuarium 2

Ikan

Menit 15 Stabil, ikan mengeluarkan feses Ikan berenang stabil, ikan mengeluarkan feses.
Menit 30 Stabil, ikan semakin banyak mengeluarkan feses Ikan bergerak ke dasar permukaan, operkulum beregerak lebih cepat.
Menit 45 Stabil, ikan semakin banyak mengeluarkan feses Ikan bergerak didasar permukaan, bukaan mulut lebih cepat.
Menit 60 Stabil Ikan bergerak di dasar permukaan, tetap mengeluarkan feses.
Jam 12.00 hari Rabu Stabil Berenang lambat
Jam 15.00 hari Rabu Stabil Berenang lambat ­­­-
Jam 08.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan diam dan berkumpul 1 4,01
Jam 12.00 hari Kamis Ikan bergerak dengan lambat Ikan berenang normal
Jam 15.00 hari Kamis Ikan bergerak lambat Ikan berkumpul 1 3,39
Jam 08.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Warna ikan pudar, dan berenang stabil
Jam 12.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan cenderung diam dan warna tubuh menjadi pudar serta pucat.
Jam 15.00 hari Jumat Ikan bergerak normal

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 6 ppt ikan bergerak dengan lambat dan warnanya lebih pucat.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  9 ppt.

Tabel 17. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 9 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 9 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Ikan mendekati aerator Ikan berenang dengan tenang
Menit 30 Ikan berenang mendekati aerator & berenang secara aktif Ikan banyak mengeluarkan feses & berenang secara aktif
Menit 45 Ikan tenang Ikan tenang
Menit 60 Ikan berenang di permukaan Aktifitas operkulum lebih ceepat
Jam 12.00 hari Rabu ikan-ikan tenang ikan tenang, aktivitas operkulum meningkat, feses banyak
Jam 15.00 hari Rabu ikan tenang, mati 2 ekor ikan-ikan tenang 2 19,79
Jam 08.00 hari Kamis ikan tenang, sedikit feses ikan tenang dan banyak feses yang keluar
Jam 12.00 hari Kamis ikan tenang ikan-ikan tenang
Jam 15.00 hari Kamis ikan tenang, berenang seperti biasa ikan tenang, banyak feses
Jam 08.00 hari Jumat ikan tenang, feses semakin banyak ikan tenang, feses lebih banyak daripada kontrol
Jam 12.00 hari Jumat ikan tenang, feses banyak ikan tenang, 1 ikan mengalami iritasi (luka pada mata)
Jam 15.00 hari Jumat ikan tenang, feses semakin banyak 1 ikan terkena iritasi (luka pada mata), feses lebih banyak daripada kontrol

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 9 ppt cenderung tenang.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  12 ppt.

Tabel 18. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 12 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 12 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Berenang Normal Ikan Berenang Aktif
Menit 30 Berenang Normal Ikan berenang aktif , frekuensi operculum lebih cepat,

Berenang ke permukaan

Menit 45 Berenang Normal Ikan berenang aktif , frekuensi operculum lebih cepat,

Berenang ke permukaan

Menit 60 Berenang Normal Ikan berenang aktif , frekuensi operculum lebih cepat,

Berenang ke permukaan

Jam 12.00 hari Rabu Berenang Normal Pergerakan operculum lebih cepat, berenang aktif, feses lebih pekat, pergerakannya lambat, berenang normal
Jam 15.00 hari Rabu Berenang Normal operculum iritasi, pergerakannya lambat dan mendekati aerator, sirip rusak
Jam 08.00 hari Kamis Berenang Normal Sirip dorsal rusak, frekuensi operculum rusak, berenang lambat, mengeluarkan mukus, berenang dekat permukaan
Jam 12.00 hari Kamis Berenang Normal berenang lambat(cenderung diam), kulit mengelupas, berenang dekat permukaan
Jam 15.00 hari Kamis Berenang Normal Pergerakan operculum lebih cepat, 2 ikan stress pergerakan pasif, 1 ikan bergerak aktif
Jam 08.00 hari Jumat Berenang Normal Operculum lebih cepat 2 B1 =9,16

B2= 5, 61

Jam 12.00 hari Jumat Berenang Normal Operculum lebih cepat, bergerak pasif
Jam 15.00 hari Jumat Berenang Normal Operculum lebih cepat, bergerak pasif, feses lebih banyak

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 12 ppt kondisinya melemah dengan bukaan operculum yang cepat dan cenderung diam.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  15 ppt.

Tabel 19. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 15 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium 1

Ikan

Akuarium 2

Ikan

Menit 15 ikan beradaptasi, bergerak pasif ikan mendekati aerator, ikan mencari makan
Menit 30 ikan begerak mendekati aerator ikan saling menyerang
Menit 45 ikan mendekati aerator, ikan pasif ikan diam dipojok akuarium, banyak feses
Menit 60 ikan diam sirip dorsal ikan nila tegang
Jam 12.00 hari Rabu ikan aktif berenang, mendekati aerator feses banyak, ikan diam didekat aerator, ikan berkelahi
Jam 15.00 hari Rabu ikan normal ikan nila berenang seperti biasa
Jam 08.00 hari Kamis 2 ikan berenang aktif mendekati aerator, ikan pasif ikan berwarna pucat, berenang aktif
Jam 12.00 hari Kamis 1 ikan berenang mendekati aerator, ikan pasif didasar, 1 ikan diam ditengah akuarium ikan berenang aktif, banyak feses
Jam 15.00 hari Kamis ikan berenang mendekati aerator ikan cenderung mendekati aerator, banyak feses
Jam 08.00 hari Jumat ikan cenderung diam didasar, 1 ikan mati ikan aktif berenang, ikan berkejaran 1 3.9
Jam 12.00 hari Jumat Ikan pasif, 1 ikan mati ikan aktif berenang, ikan berkejaran 1 10.07
Jam 15.00 hari Jumat ikan pasif, tinggal sisa 1 ikan ikan aktif berenang, sisa 3 ekor

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 15 ppt ikan cenderung aktif bergerak dan mengeluarkan banyak feses.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  18 ppt.

Tabel 20. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 18 ppt

Waktu Tingkah laku
Akuarium kontrol Akuarium 18 ppt ∑ Ikan mati Bobot ikan mati
Menit 15 Ikan diam di dasar Ikan diam
Cenderung bergerombol Ikan mendekati permukaan
Menit 30 Banyak feses Belum ada feses
Ikan berenang di bawah permukaan Berkumpul di pojok permukaan
Menit 45 Ikan aktif Operkulum ikan sedikit memerah
Ikan berenang di dasar air Cenderung diam di dasar air
Sedikit berenang di pinggiran aquarium
Menit 60 Ikan berenang di dasar aquarium Ikan masih aktif
Berenang di dasar maupun di permukaan
Jam 12.00 hari Rabu Ikan berenang di aquarium Ikan bergerak mendekati aerasi
Terdapat feses Kadang ke permukaan air
Jam 15.00 hari Rabu Ikan berenang di pojok aquarium Ikan melemah
Masih aktif Sisanya aktif
Jam 08.00 hari Kamis Ikan berenang di pojok aquarium Ikan mati 2 2 9,10 gram
Ikan diam Sisa ikan diam
Ikan melemah
Jam 12.00 hari Kamis Ikan bergerak aktif Ikan diam dekat aerator
Ikan tidak bergerombol Terdapat banyak feses
Ikan jauh dari aerator
Jam 15.00 hari Kamis Ikan cenderung diam Ikan diam di dekat aerator
Ikan tidak bergerombol
Ikan berenang dekat aerator
Ikan berenang di dekat permukaan
Jam 08.00 hari Jumat Ikan diam Ikan diam di dekat aerator
Ikan berenang bergerombol
Jam 12.00 hari Jumat Ikan kurang aktif Ikan kurang aktif
Ikan diam di dasar aquarium Ikan kurang respon
Air lebih keruh Ikan berenang di dekat permukaan air
Gerakan sirip ikan cepat
Jam 15.00 hari Jumat Ikan diam dan beregerombol Ikan diam

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 18 ppt ikan cenderung melemah.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  21 ppt.

Tabel 21. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 21 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium Kontrol

Ikan Nila

Akuarium 21 ppt

Ikan

Menit 15 Ikan cenderung diam Bergerombol, mendekati aerator
Menit 30 Ikan cenderung diam, bergerombol Bergerombol, berenang di permukaan, mulut megap-megap
Menit 45 Ikan berenang di permukaan Mendekati aerator, berenang di dasar
Menit 60 Cenderung diam di dasar Cenderung diam, bergerombol dekat aerator
Jam 12.00 hari Rabu Cenderung diam di dasar, bergerombol, Cenderung diam di dasar, bergerombol
Jam 15.00 hari Rabu Cenderung diam di dasr Cenderung diam, dekat aerator
Jam 08.00 hari Kamis Ikan pasif, operculum bergerak cepat, feses banyak Ikan cenderung diam di pojok, feses banyak, operculum bergerak cepat
Jam 12.00 hari Kamis Cenderung diam, mengeluarkan banyak feses, 1 ekor mati Mengeluarkan banyak feses, cenderung diam 1 9,88
Jam 15.00 hari Kamis Ikan diam di dasar Ikan cenderung diam
Jam 08.00 hari Jumat Cenderung diam di dasar, dekat aerator Ikan cenderung diam
Jam 12.00 hari Jumat Ikan mati 1, cenderung diam Ikan cenderung diam, dekat aerator 1 9,71
Jam 15.00 hari Jumat Ikan bergerombol, cenderung diam Ikan tidak aktif, mulut megap-megap

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 21 ppt ikan cenderung melemah dengan banyak diam dekat aerator.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  24 ppt.

Tabel 22. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 24 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 24 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Ikan cenderung diam dan pasif. Bergerak biasa, operculum terbuka lebih lebar, bagian sekitar mata memerah, pectoral bergerak capat, dorsal tidak tegak.
Menit 30 Ikan cenderung dim di dekat aerasi. Ikan pasif, tidak bergerak. Satu diantaranya tegang.
Menit 45 Ikan mulai bergerak ke sisi lain tapi cenderung pasif. Ikan pasif, kadang tegang, kadang berenang ke permukaan dan akhirnya turun.
Menit 60 Ikan masih cenderung pasif. Ikan panik, bergerak menabrak kaca, rahang bawah memerah, ikan bertahan hidup.
Jam 12.00 hari Rabu Ikan banyak diam di daerah aerasi, terkadang diam didasar dnega gerakan operculum lambat Ikan mulai mabok, mata ikan berubah jadi putih, ikan terus bergerak cari permukaan.

Ikan sulit berenang dan diam di dasar, ikan mati semua jam 12.15

3 14,72
Jam 15.00 hari Rabu Ikan berada di aerasi, ikan hanya menggerak-geraka operculum dengan lambat
Jam 08.00 hari Kamis Ikan aktif, bergerombol di dasar
Jam 12.00 hari Kamis Ikan diam di dasar, mendekati aerasi
Jam 15.00 hari Kamis Ikan aktif, terkadang diam didasar.
Jam 08.00 hari Jumat Ikan diam didasar, operculum bergerak lambat
Jam 12.00 hari Jumat Ikan diam di dasar, mendekati aerasi
Jam 15.00 hari Jumat Ikan diam didasar, operculum bergerak lambat

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 24 ppt bukaan operculumnya cepat dan cenderung diam dan mabuk sehingga pada jam 12.00 hari rabu ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  27 ppt.

Tabel 23. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 27 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 27 ppt

Ikan Nila

Menit 15 ikan pasif menuju aerator. Ikan bergerombol ikan di dasar akuarium dan bergerak pasif
Menit 30 ikan saling kejar-kejaran, operculum lebih cepat membuka dan menutup. Ikan berada di bawah permukaan, ikan aktif. ikan diam, operculum lambat
Menit 45 ikan berkejar-kejaran operculum membuka lebih cepat. Ikan pasif diam di dasar dan melemas
Menit 60 ikan aktif dan operculum aktif membuka-menutup operculum membuka lebih cepat, pasif, berada di bawah permukaan.
Jam 12.00 hari Rabu ikan bergerak aktif, mengeluarkan banyak feses 2 ikan mati, 1 ikan bergerak pasif 2 23,78
Jam 15.00 hari Rabu ikan bergerak aktif, mengeluarkan banyak feses 1 ikan mati 1 7,67

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 27 ppt ikan cenderung lemas diam dengan bukaan operculum cepat dan pada jam 15.00 hari rabu ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  30 ppt.

Tabel 24. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 30 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 30 ppt

Ikan  Nila

Menit 15 Bergerak normal. Ikan diam didasar. Pergerakan sirip naik turun. Cenderung diam bergerombol. Hiperaktif tiba-tiba diam masih dapat bergerak. Sirip ventral bergerak cepat.
Menit 30 Dorsal tegak. Bergerak normal. Ventral bergerak cepat. Ikan bergerak kepermukaan. Dorsal tidak tegak. Operculum berdarah caudal rusak.
Menit 45 Normal semua sirip bergerak aktif. Mulut menghadap kepermukaan. Bersandar pada dasar akuarium. Ikan kehilangan keseimbangan sehingga berenangya miring dengan posisi operculum berada di permukaan air. Gerak operculum nyaris berhenti bergerak. Badan muncul warna merah pada tiap pangkal sirip.
Menit 60 Ikan Kepermukaan disudut akuarium gerakan ikan agresif, ikan mengeluarkan feses. Ikan berada di dasar akuarium sirip berwarna merah loncat kepermukaan. Operculum jarang bergerak pada menit ke-4.
Jam 12.00 hari Rabu Ada yang mendekati aerator, berenang biasa, mata buta. Mati dengan bobot akhir 3 9,20

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 30 ppt cenderung diam dengan sirip ventral rusak, operculum berdarah lalu ikan kehilangan keseimbangan dan pada jam 12.00 hari rabu ikan sudah mati semua.

3.2 Pembahasan

Salinitas media optimum pada ikan mas adalah 6 ppt. Saat diberi perlakuan salinitas 6 ppt nilai penurunan bobot rata-rata ikan mas sebesar 0,52% atau jauh lebih kecil dibandingkan dengan penurunan bobot rata-rata ikan mas yang diberi perlakuan salinitas lebih dari 6 ppt. Selain itu pada salinitas 6 ppt ikan mas masih bisa bertahan hidup sedangkan pada salinitas di atas 6 ppt tingkat kelangsungan hidupnya sebesar 0%. Ikan mas hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di sungai danau maupun di genangan air lainnya. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang juga ditemukan perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30 ppt (Asmawi 1986). Hasil percobaan berbeda dengan literartur. Hal ini mungkin disebabkan karena ikan yang digunakan masih kecil dan juga kondisi ikan yang sedang tidak baik.

Ikan nila tergolong ikan euryhaline yaitu ikan yang memiliki kisaran yang luas terhadap salinitas. Salinitas yang cocok untuk nila adalah 0-35 ppt, namun salinitas yang memungkinkan nila tumbuh optimal adalah 0-30 ppt. Pada salinitas 31-35 ppt, nila masih bisa hidup, tetapi pertumbuhannya lambat (Kordi 2010).

Pada percobaan, salinitas media optimum ikan nila adalah 21 ppt. Ikan nila dapat bertahan pada salinitas 21 ppt karena ikan ini termasuk ikan yang euryhaline yaitu ikan yang memiliki salinitas yang luas. Saat diberi perlakuan salinitas sebesar 21 ppt tingkat kelangsungan hidupnya sebesar 100% dengan penurunan bobot rata-rata sebesar 2,75% namun saat perlakuan salinitasnya di atas 21 ppt, tingkat kelangsungan hidup ikan nila sebesar 0%. Hal ini tidak sesuai dengan tinjauan pustaka yang didapat bahwa ikan nila dapat hidup hingga salinitas 35 ppt. hal tersebut mungkin disebabkan karena ikan nila yang digunakan kondisinya sudah tidak baik dan umurnya yang masih kecil.

Tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 3 ppt dan 6 ppt masih terlihat normal, namun mulai dari salinitas 9 ppt hingga 30 ppt tingkah laku ikan mas mulai tidak biasa hingga menyebabkan ikan mas mati. Hal ini disebabkan karena pada selang salinitas 9 ppt hingga 30 ppt kondisi air atau media kurang bisa ditolerir oleh ikan mas tersebut. Tingkah laku ikan mas pada saat kondisi tersebut, gerakan bukaan operculum ikan mas menjadi lebih cepat lalu ikan menjadi stress dan akhirnya ikan mati. Tingkah laku ikan nila pada perlakuan 3 ppt samapi 21 ppt masih normal dimana ikan masih bisa  bertahan hidup hingga salinitas 21 ppt, namun mulai dari salinitas 24 ppt sampai 30 ppt tingkah laku ikan nila sudah mulai tidak normal dimana ikan nila tersebut mulai melemah dan bukaan operculumnya semakin cepat dan lama kelaman ikan nila tersebut mati. Hal tersebut didukung pernyataan Effendie (2002), bahwa ikan air tawar tidak bisa dipaksakan dipelihara dalam air bersalinitas.

Penurunan bobot rata-rata ikan mas dan ikan nila pada percobaan cukup berfluktuasi. Secara umum terlihat pada grafik bahwa semakin tinggi salinitas maka penurunan bobot juga semakin besar. Hal ini terjadi karena adanya osmoregulasi yang terjadi pada ikan dimana ikan menyeimbangkan tekanan osmotik di dalam dan di luar tubuh ikan. Peningkatan osmolaritas berkaitan dengan mekanisme osmoregulasi yang dilakukan ikan mas dan ikan nila. Pada media dengan tingkat kerja osmotik di luar kisaran isoosmotik, ikan mas dan ikan nila melakukan kerja osmotik untuk keperluan osmoregulasi. Hal tersebut menyebabkan pembelanjaan energi untuk osmoregulasi tinggi sehingga mengurangi porsi energi untuk pertumbuhan (Karim 2007).

Osmolaritas media merupakan penentu tingkat kerja osmotik yang dialami oleh ikan. Osmolaritas media makin besar dengan peningkatan salinitas, hal tersebut disebabkan peningkatan konsentrasi ion-ion terlarut. Sifat osmotik dari media bergantung pada seluruh ion yang terlarut di dalam media tersebut.  Dengan semakin besarnya jumlah ion terlarut di dalam media. tingkat kepekaan osmolaritas larutan akan semakin tinggi pula. sehingga akan menyebabkan makin bertambah besarnya tekanan osmotik media. Demikian pula halnya dengan osmolaritas hemolimfe (cairan tubuh) ikan mas dan ikan nila yang meningkat secara linier dengan peningkatan salinitas media. Ikan nila termasuk organisme akuatik euryhaline yang memiliki kemampuan untuk menjaga lingkungan internalnya dengan cara mengatur osmolaritas (kandungan garam dan air) pada cairan internalnya. Dengan demikian ikan nila akan bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya apabila berada pada media bersalinitas rendah dan hipoosmotik pada media bersalinitas tinggi (Karim 2007).

Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Ikan mas adalah salah satu jenis ikan peliharaan yang penting sejak dahulu hingga sekarang. Ikan mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang, agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (babels), ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata 1983). Ikan mas dikenal sebagai ikan pemakan segala (omnivora) antara lain memakan serangga kecil, siput cacing, sampah dapur, potongan ikan, dan lain-lain (Asmawi1986).

Klasifikasi Ikan Mas menurut Saanin (1984), yaitu:

Filum         : Chodata

Kelas         : Pisces

Sub kelas   : Teleostei

Ordo          : Ostariophysi

Sub ordo    : Cyprinoidea

Famili        : Cyprinidea

Genus        : Cyprinus

Spesies       : Cyprinus caprio L.

Daerah yang sesuai untuk mengusahakan pemeliharaan ikan ini yaitu daerah yang berada antara 150 – 600 meter di atas permukaan laut, pH perairan berkisar antara 7-8 dan suhu optimum 20-25 oC. Ikan mas hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di sungai danau maupun di genangan air lainnya (Asmawi 1986). Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang juga ditemukan perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%o.

Klasifikasi ikan nila berdasarkan Dr. Trewavas (1982) dalam Widyanti (2009) adalah sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Sub-filum        : Vertebrata

Kelas               : Osteichtyes

Sub-kelas         : Acanthoptherigii

Ordo                : Percomorphi

Sub-ordo         : Percoidea

Famili              : Cichlidae

Genus              : Oreochromis

Spesies            : Oreochromis niloticus

Ikan Nila merupakan ikan air tawar yang memiliki bentuk tubuh agak memanjang dan pipih ke samping, warnanya putih kehitam-hitaman, dan makin ke bagian perut makin terang. Pada bagian perut terdapat sepuluh buah garis vertical berwarna hijau kebiru-biruan, sedangkan pada sirip ekor terdapat delapan buah garis melintang yang ujungnya berwarna kemerah-merahan. Mata ikan Nila tampak menonjol agak besar dan di pinggirnya berwarna hijau kebiru-biruan. Mulut terminal, linea literalis terputus menjadi dua bagian, dan bentuk sirip stenoit. Dari kebiasaan makannya, ikan Nila termasuk ikan omnivora, yaitu pemakan segala.

Habitat nila adalah perairan tawar, seperti sungai, danau, waduk, dan rawa-rawa, tetapi karena toleransinya yang luas terhadap salinitas (euryhaline), dapat pula hidup dengan baik di air payau dan laut. Salinitas yang cocok adalah 0-35 ppt, namun salinitas yang memungkinkan untuk tumbuh optimal adalah 0-30 ppt. pada salinitas 31-35 ppt, nila masih hidup namun pertumbuhannya lambat (Widyanti 2009).

IV. KESIMPULAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa salinitas optimum bagi pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio) adalah sebesar 6 ppt. Sedangkan pada ikan nila (Oreochromis niloticu)s salinitas optimum bagi pertumbuhannya adalah sebesar 21 ppt.

4.2 Saran

Sebaiknya perbedaan perlakuan salinitas lebih kecil lagi selang salinitasnya, sehingga dapat diketahui dengan tepat salinitas optimum pada suatu organisme akuatik.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi R dan Tang U.M. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru : Unri Press.

Effendi, Hefni. 2002. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius K, M. Ghufran H. Kordi. 2010. Panduan Lengkap Memelihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Lyli Publisher, Yogyakarta.

Karim, M. Yusri. 2007. The Effect of Osmotic at Various Medium Salinity on Vitality of Female Mud Crab (Scylla olivacea). Vol. 14 No. 1. Th. 2007

Trewavas, E. 1982. Tilapias : Taxonomy and Specification. P. 3-143. In R.S.V. Pullin and R.H. Lowe-McConell(eds.)The Biology and Culture of Tilapias. ICLARM Conference Proceeding. Philippines

Widyanti, Widy. 2009. Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Oreochromis niloticus Yang Diberi Berbagai Dosis Enzim Cairan Rumen pada Pakan Berbasis Daun Lamtorogung Leucaena leucocephala. [Skripsi]. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.


LAMPIRAN

Contoh perhitungan SR pada tabel 2, salinitas 3 ppt

Contoh perhitungan PBR pada tabel 2, salinitas 3

%

PostHeaderIcon Ikan Punya Kemampuan Berhitung

KOMPAS.com Berdasarkan penelitian terhadap ikan malaikat (angelfish), ilmuwan menyimpulkan bahwa ikan tersebut bisa membedakan banyak atau sedikit plus mampu berhitung dari 1 sampai 3.

Gerlai dan Luis Gomez-Lalpaza dari University of Oviedo, Spanyol, tertarik dengan anggapan bahwa ikan malaikat memilih bergabung ke dalam kawanan besar ketika berada di lingkungan asing. Mereka melakukan hal itu demi keamanan.

Gerlai dan timnya meletakkan ikan dalam sebuah tangki khusus. Ikan tersebut dihadapkan pada dua kawanan dengan jumlah yang berbeda. Para peneliti lalu mencatat kawanan yang dipilih ikan tersebut.

Hasilnya, ikan malaikat mampu memilih kawanan yang lebih besar ketika perbedaan jumlah antara kedua kawanan adalah dua kali lipat. Ketika perbedaan jumlah lebih kecil dari dua kali, pilihan ikan tidak dapat diprediksi. Dengan temuan ini, para peneliti menarik kesimpulan bahwa ikan malaikat bisa memprediksi jumlah kawanan.

Selain mampu memprediksi jumlah, ikan malaikat juga bisa berhitung secara lebih presisi. “Misalnya, ikan dapat membedakan 2 dengan 3,” Gerlai mencontohkan. “Kemampuan ini menunjukkan perhitungan individual, bukan sekadar memperkirakan jumlah,” katanya. Gerlai juga menjelaskan, kemampuan berhitung ikan malaikat terbatas hanya sampai 3.

Para ilmuwan menerka, kemampuan berhitung pada ikan ini tidak punya keuntungan bagi ikan. “Makanya, kemampuan ini tidak berevolusi,” ujar Gerlai.

Tidak seperti kemampuan berhitung, kemampuan memprediksi jumlah kawanan punya keuntungan bagi ikan malaikat. Mereka memilih kawanan yang mereka prediksi lebih banyak demi keamanan dan pencarian makanan. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)