PostHeaderIcon Osmoregulasi ikan

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan hidup pada kondisi dimana lingkungannya memiliki tekanan osmotik yang berbeda dengan tekanan osmotik cairan tubuhnya oleh karena itu dalam upaya menyesuaikan diri dengan lingkungannya diperlukan suatu pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung  dengan normal. Pengaturan tekanan cairan osmotik pada tubuh ikan ini  disebut osmoregulasi (Affandi dan Tang 2002).

Penyesuaian  ikan terhadap pengaruh lingkungan itu merupakan suatu homeostasis, dalam hal ini ikan akan mempertahankan keadaan yang stabil melalui suatu proses aktif melawan perubahan yang dimaksud. Homeostasis merupakan kecenderungan organisme hidup untuk mengontrol dan mengatur fluktuasi lingkungan internalnya (Affandi dan Tang 2002).

Osmoregulasi memiliki hubungan dengan pertumbuhan dalam hal penggunaan energi dimana hubungan tersebut bersifat berbanding terbalik. Meningkatnya penggunaan energi untuk osmoregulasi akan menurunkan porsi energi untuk pertumbuhan. Hal ini terkait kecenderungan bahwa osmoregulasi mutlak harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk tumbuh. Maka dari itu pertumbuhan akan maksimal pada kondisi salinitas yang optimal. Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan tentang salinitas optimum dimana ikan mampu untuk  memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangannya.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Praktikum ini bertujuan untuk mendapatkan salinitas optimum bagi pertumbuhan biota akuatik.

II. METODELOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan pada hari Rabu, jam 08.00 – 11.00 WIB, tanggal 9-11 Maret  2011, bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan

Alat alat yang digunakan adalah timbangan digital, akuarium, ember, aerator, stopwatch, lap/tissue, dan alat tulis. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah ikan mas, ikan nila, dan garam.

2.3 Prosedur Kerja

Siapkan 4 buah akuarium lalu isi dengan 10 liter air, kemudian aerator dipasang ke akuarium. Setelah itu garam disiapkan dan dilarutkan (3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, dan 30 ppt). Lalu larutan garam dimasukkan kedalam akuarium. Lalu 3 ekor ikan mas kontrol, 3 ekor ikan mas perlakuan, 3 ekor ikan nila kontrol, dan 3 ekor ikan nila perlakuan ditimbang dengan menggunakan timbangan digital, sebelumnya ikan telah dipuasakan selama 24 jam. Kemudian ikan dimasukkan kedalam akuarium. Tingkah laku ikan diamati tiap 15 menit selama 60 menit. Tingkah lakunya dicatat. Kemudian amati tingkah lakunya selama 3×24 jam setiap jam 08.00. 12.00, dan 15.00. Lalu bobot ikan yang mati ditimbang. Pada akhir percobaan ikan yang masih hidup ditimbang bobot akhirnya.

2.4 Analisis Data

Parameter yang diamati pada praktikum ini adalah

  • Kelangsungan Hidup (SR)

Keterangan :   Nt = Jumlah organisme pada percobaan

No = Jumlah organisme pada awal percobaan

  • Pertumbuhan Bobot Relatif (penurunan bobot) atau PBR selama pecobaan

Keterangan:   Wt = Berat rata-rata pada akhir percobaan

Wo = Berat rata-rata pada awal percobaan

  • Kriteria salinitas optimum didasarkan pada pertumbuhan bobot negatif (-) yang terkecil


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif kontrol pada ikan mas (Cyprinus carpio).

Tabel 1. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR dengan kontrol pada ikan Mas

Kontrol Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 17,04 9,29 -45,48 66,67
6 15,48 14,69 -5,10 100
9 4,72 5,02 6,36 100
12 18,68 19,52 4,50 0
15 1,81 1,64 -9,39 0
18 13,94 13,50 -3,16 100
21 4,68 4,39 -6,20 66,67
24 17,60 21,02 19,43 100
27 6,72 6,71 -9,92 100
30 12,85 12,54 -2,41 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa secara umum ikan mengalami penurunan bobot relatif.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif dengan berbagai perlakuan pada ikan  mas (Cyprinus carpio).

Tabel 2. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR dengan Berbagai Perlakuan Salinitas pada ikan Mas

Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 14,28 17,00 19,05 100
6 15,47 15,39 -0,52 100
9 3,14 3,02 -3,82 0
12 18, 88 16,51 -12,55 0
15 1,76 1,55 -11,72 0
18 14,69 13,30 -9,46 0
21 8,24 6,79 -17,60 0
24 14,65 13,82 -5,67 0
27 7,55 7,06 -6,49 0
30 12,46 11,32 -9,15 0

Dari tabel di atas terlihat bahwa secara umum ikan mengalami penurunan bobot relatifdan pada perlakuan 9 ppt tingkat kelangsungan hidup ikan mas sebesar 0%.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif kontrol pada ikan  nila (Oreochromis niloticus).

Tabel 3. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR kontrol pada ikan Nila

Kontrol Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 29,69 31,54 6,23 66,67
6 13,64 13,77 0,95 33,33
9 7,80 7,90 1,28 33,33
12 30, 50 30, 52 0,06 100
15 8,83 8,43 -4,53 33.33
18 34,27 30,67 -10,50 100
21 10,19 9,74 -4,42 100
24 33,65 41,04 21,96 33,33
27 11,59 11,76 1,47 100
30 32,49 31,04 -4,46 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa pada kontrol terdapat penurunan bobot maupun pertambahan bobot.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif dengan berbagai perlakuan pada ikan  nila (Oreochromis niloticus).

Tabel 4. Laju pertumbuhan bobot relatif dan SR dengan Berbagai Perlakuan Salinitas pada ikan Nila

Perlakuan (ppt) Wo (g) Wt (g) PBR (%) SR (%)
3 34,22 26,98 -21,16 66,67
6 12,76 12,68 -0,63 100
9 5,02 4,74 -5,58 100
12 39,03 28,25 -27,62 33, 33
15 8,05 7,44 -7,58 100
18 14,69 14,55 -0,95 33
21 9,08 8,83 -2,75 100
24 17,42 14,72 -15,50 0
27 11,47 10,48 -8,63 0
30 15,84 9,20 -41,92 0

Dari tabel di atas terlihat bahwa PBR paling besar terjadi pada perlakuan 30 ppt dan pada kondisi 24 ppt tingkat kelangsungan hidup ikan sudah 0%.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan laju pertumbuhan bobot relatif dengan berbagai perlakuan pada ikan nila dan ikan mas dalam bentuk grafik.

Gambar 1. Grafik hubungan antara nilai PBR dengan tingkat salinitas berbeda

Dari grafik di atas terlihat bahwa pada ikan mas PBR awalnya bernilai positif namun mulai dari 6 ppt, PBR-nya bernilai negatif. Sedangkan pada ikan nila PBR-nya selalu bernilai negatif dan nilai PBR yang yang paling besar terjadi saat 30 ppt.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 3 ppt.

Tabel 5. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 3 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan  Mas

Akuarium 3 ppt

Ikan  Mas

Menit 15 Ikan berenang bebas, sangat aktif Gerak agresif, (gerak aktif)
Menit 30 Normal Operkulum berwarna merah, dengan gerak cepat
Menit 45 Pergerakan pasif, kondisi tubuh normal Operkulum berwarna merah, bukaan mulut mulai membesar dgn pergerakan lbh agresif (ada loncatan)
Menit 60 Pergerakan pasif, dekat aerator Pergerakan kurang aktif
Jam 12.00 hari Rabu Gerak normal, bergerombol Ikan bergerak agresif, mendekati aerator
Jam 15.00 hari Rabu Normal Normal
Jam 08.00 hari Kamis Normal Kulit memerah
Jam 12.00 hari Kamis Normal Berkumpul, tenang, aktifitas operkulum cepat
Jam 15.00 hari Kamis Pergerakan pasif Renang pasif, operkulum merah
Jam 08.00 hari Jumat Pergerakan pasif Pergerakan aktif, berkmpl dekat aerator
Jam 12.00 hari Jumat Normal Cenderung didasar 1 4,26 gr
Jam 15.00 hari Jumat normal normal

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas aktif dan normal seperti kontrol.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 6 ppt.

Tabel 6. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 6 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol Akuarium 6 ppt
Menit 15 Stabil Ikan berenang stabil
Menit 30 Stabil Ikan bergerak ke atas permukaan
Menit 45 Stabil Ikan loncat ke atas permukaan untuk mendapatkan oksigen
Menit 60 Stabil Ikan bergerak stabil di atas permukaan
Jam 12.00 hari Rabu stabil Berenang lebih lambat
Jam 15.00 hari Rabu Stabil Berenang lebih lambat
Jam 08.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan berenang mendekati aerator, permukaan air berbusa
Jam 12.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan mengeluarkan feses yang banyak
Jam 15.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan berenang di dasar permukaan
Jam 08.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan diam dan berkumpul
Jam 12.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan diam
Jam 15.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan cenderung berkumpul

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 6 ppt lebih banyak diam dan melambat.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  salinitas 9 ppt.

Tabel 7. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 9 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol Akuarium 9 ppt
Menit 15 Ikan berenang seperti biasa Ikan berenang mendekati aerator
Menit 30 Ikan berenang seperti biasa Pergerakan operkulum lebih cepat (membuka dan menutup)
Menit 45 Ikan berenang seperti biasa Bukaan operkulum lebih besar
Menit 60 Ikan berenang seperti biasa Air lebih keruh, dan aktifitas operkulum lebih cepat
Jam 12.00 hari Rabu ikan berenang seperti biasa ikan tenang, berenang seperti biasa
Jam 15.00 hari Rabu ikan-ikan tenang ikan bergerak aktif
Jam 08.00 hari Kamis ikan-ikan tenang ikan tenang, air di akuarium keruh
Jam 12.00 hari Kamis ikan-ikan tenang, mati 1 ekor ikan tenang, banyak feses 1 5,98
Jam 15.00 hari Kamis ikan-ikan tenang ikan tenang, ikan lebih pucat dibandig kontrol
Jam 08.00 hari Jumat ikan-ikan tenang, mati 1 ekor ikan tenang, berenang di dasar 1 5,04
Jam 12.00 hari Jumat ikan-ikan tenang ikan berenang aktif
Jam 15.00 hari Jumat ikan tenang, air di akuarium keruh, feses sedikit ikan tenang di sudut akuarium, banyak buih atau gelembung di permukaan air

Dari tabel diatas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada salinitas 9 ppt bukaan operculumnya lebih cepat dan mulai melemah dengan ikan mulai tenang di dasar serta terdapat 2 ekor ikan yang mati.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 12 ppt.

Tabel 8. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 12 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 12 ppt

Ikan Mas

Menit 15 Berenang normal Mulut membuka lebih lebar dan pergerakan operculum lebih cepat, berenang normal, dan feses lebih pekat
Menit 30 Berenang normal Mulut membuka lebih lebar dan pergerakan operculum lebih cepat, berenang agak lambat, dan feses lebih pekat
Menit 45 Berenang normal berenang agak lambat, operculum lebih cepat
Menit 60 Berenang normal berenang agak lambat, operculum lebih cepat, warna tubuh memucat
Jam 12.00 hari Rabu Berenang normal Pergerakan operculum lebih cepat, berenang aktif 2 7, 32

4, 83

Jam 15.00 hari Rabu Berenang normal Ikan mati 1 4, 36
Jam 08.00 hari Kamis Berenang Normal -
Jam 12.00 hari Kamis Berenang Normal - 1 7, 64
Jam 15.00 hari Kamis Berenang Normal - 1 6,61
Jam 08.00 hari Jumat Berenang Normal -
Jam 12.00 hari Jumat Berenang Normal -
Jam 15.00 hari Jumat Berenang Normal - 1 5, 27

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan pada perlakuan salinitas 12 ppt bukaan operculumnya cepat dan makin lama ikan melemah dan sampai jam 15.00 hari rabu ikan perlakuan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 15  ppt.

Tabel 9. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 15 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol Akuarium 15 ppt
Menit 15 Berenang normal bergerak aktif, mencari makan
Menit 30 berenang mendekati aerator Bergerak lebih aktif, operkulum lebih cepat
Menit 45 Normal, menjauhi aerator ikan di permukaan, 1 ikan kehilangan kesimbangan
Menit 60 ikan normal 1 ikan lebih aktif, 2 ikan kehilangan kesimbangan 3 4,67 gram
Jam 12.00 hari Rabu ikan pasif, warna air keruh sudah mati
Jam 15.00 hari Rabu pergerakan ikan melemah, diam didasar sudah mati
Jam 08.00 hari Kamis 2 ikan berenang aktif, 1 ikan hilang kendali sudah mati
Jam 12.00 hari Kamis 1 ikan mas oleng, 2 ikan berenang dengan pergerakan lambat sudah mati
Jam 15.00 hari Kamis 1 ikan hilang kendali, 2 ikan berenang pasif sudah mati
Jam 08.00 hari Jumat ikan berenang normal, sudah mati 1 1.75 gram
Jam 12.00 hari Jumat ikan mati semua, sudah mati 2 3.17 gram
Jam 15.00 hari Jumat Sudah mati sudah mati

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 15 ppt bukaan operculumnya lebih cepat dan pada menit 60 semua ikan perlakuan sudah mati.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 18 ppt.

Tabel 10. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 18 ppt

Tingkah Laku
Waktu Akuarium kontrol Akuarium 18 ppt ∑ Ikan mati Bobot ikan mati
Menit 15 Ikan aktif Ikan berenang aktif
Mengelilingi akuarium secara bergerombol Loncat-loncat dan berenang di permukaan
Bergerak di dasar Berenang ke arah aerator
Agresif dan bergerombol
Berkumpul di pojok
Menit 30 Ikan bergerombol Ikan diam
Bergerak ke sudut akuarium Mulut lebih lebar untuk mengambil oksigen
Berenang di dasar akuarium Mulut menghadap ke atas
Berenang di bawah aerator Insang mulai rusak
Pergerakan ikan tidak stabil/miring
Operkulum membengkak
Menit 45 Ikan tetap aktif Ikan mengambang miring
Peka terhadap ransangan Ikan megap-megap
Berada di dasar perairan Bergerak cepat, melambat dan menabrak aquarium
Mengambang dekat aerator
Menit 60 Ikan aktif Ikan loncat-loncat ke dasar
Bergerombol di dasar aquarium Ikan pingsan
Ikan mati 3 3 13,94 gram
Jam 12.00 hari Rabu Ikan bergerombol
Ikan aktif
Ikan berkumpul di sudut aquarium
Jam 15.00 hari Rabu Ikan sangat aktif
Ikan berkumpul di aquarium
Jam 08.00 hari Kamis Ikan bergerak aktif
Berenang bergerombol
Jam 12.00 hari Kamis Ikan bergerak aktif dan bergerombol dekat aerator
Terdapat banyak feses
Jam 15.00 hari Kamis Ikan bergerombol
Diam dekat aerator
Bergerak aktif
Jam 08.00 hari Jumat Ikan aktif
Ikan berenang bergerombol
Jam 12.00 hari Jumat Ikan aktif
Ikan berenang bergerombol
Feses ikan banyak
Jam 15.00 hari Jumat Ikan aktif dan bergerombol
Aktivitas menurun

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 18 ppt bukaan operculumnya lebih cepat, keseimbangannya berkurang, ikan pingsan dan pada menit ke 60 ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  21 ppt.

Tabel 11. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 21 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 21 ppt

Ikan Mas

Menit 15 Ikan bergerombol, menjauhi aerator, diam Ikan bergerak aktif, ikan menjauhi aerator, ikan megap-megap, bergerombol, berenang di permukaan, operculum bergerak cepat
Menit 30 Ikan tenang di bawah permukaan, bergerombol Ikan berenang di permukaan air, bergerombol, menjauhi aerator, ikan megap-megap
Menit 45 Ikan diam, di bawah permukaan, bergerombol Ikan megap-megap, ikan melemas, pergerakan operculum cepat
Menit 60 Ikan diam, bergerak lambat, lompat-lompat Ikan lemas, sisik mengelupas, ikan mati 2 9,04
Jam 12.00 hari Rabu Ikan cenderung diam di dasar, tidak banyak gerak, menjauhi aerator Ikan mati 1 11,35
Jam 15.00 hari Rabu Ikan cenderung diam di dasar -
Jam 08.00 hari Kamis Tenang, feses banyak, bergerak ke permukaan -
Jam 12.00 hari Kamis Cenderung diam, megap-megap -
Jam 15.00 hari Kamis Ikan diam di dasar -
Jam 08.00 hari Jumat Ikan diam di dasar -
Jam 12.00 hari Jumat Ikan mati 1, cenderung diam di dasar - 1 5,05
Jam 15.00 hari Jumat Cenderung diam, gerakan operculum cepat -

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 21 ppt operculumnya bergerak cepat, ikan melemas, dan lama kelamaan ikan mas mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  salinitas 24 ppt.

Tabel 12. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 24 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan mas

Akuarium 24 ppt

Ikan mas

Menit 15 Ikan diam, cenderung pasif, tidak bergerak. Ikan bergerak aktif, operculum terbuka lebih lebar dari pertama di aklimatisasi, ikan pingsan, menit ke-5 terapung, menit ke-7 mengeluarkan feses, operculum pucat, ikan lemas, satu diantaranya melompat, tubuh tegang, ikan loncat dan akhirnya pingsan.
Menit 30 Ikan cenderung berenang ke aerator. Ikan mati 3 15,40
Menit 45 Ikan bergerak pasif.
Menit 60 Ikan tetap diam.
Jam 12.00 hari Rabu Ikan aktif, banayak bergerak, diam di aerasi,
Jam 15.00 hari Rabu Ikan bergerak bergerombol, diam di dasar, menuju aerasi
Jam 08.00 hari Kamis Bergerombol dibawah, bergerak normal/biasa
Jam 12.00 hari Kamis Bergerak normal, menuju aerasi, bergerombol
Jam 15.00 hari Kamis Ikan bergerombol, normal
Jam 08.00 hari Jumat Ikan aktif, bergerombol
Jam 12.00 hari Jumat Ikan aktif, bergerombol
Jam 15.00 hari Jumat Ikan aktif, bergerombol

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 24 ppt sejak menit awal dimasukkan ikan sudah menunjukkan tingkah laku melemah, operculumnya terbuka lebih cepat, pingsan dan akhirnya mati dalam waktu hanya 30 menit.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan salinitas 27 ppt.

Tabel 13. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 27 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 27 ppt

Ikan Mas

Menit 15 ikan bergerombol di dasar akuarium ikan bergerak sangat aktif, operculum membuka dan menutup dengan sangat cepat, ikan loncat-loncat dan mengambang di permukaan. Posisi ikan mudah terbalik
Menit 30 ikan bergerombol di dasar akuarium tiga ikan mengambang di permukaan dengan posisi terbalik, terkadang loncat-loncat mendekati aerator, mengambang dan diam. Sisik banyak yang lepas, ikan mati dan berlendir 3 21,17

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 27 ppt bukaan operculumnya cepat, ikan kehilangan keseimbangan, berlendir dan pada menit ke 30 ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan mas (Cyprinus carpio) pada perlakuan  salinitas 30 ppt.

Tabel 14. Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Salinitas 30 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Mas

Akuarium 30 ppt

Ikan

Menit 15 Bergerak normal melompat lompat. Operculum terbuka lebar . menit pertama ikan mengapung. Sekarat. Operculum bergerak cepat. Kepermukaan. Ikan kehilangan keseimbangan. Mendekati aerator.operculum menghadap kepermukaan . ingin pingsan. Lompat lompat. Pergerakan operculum melambat pada menit ke-10. Ikan pingsan dan operculum berhenti bergerak.
Menit 30 Diam didasar bergerak normal. Sudah tidak dapat bergerak mengapung sedikit berlendir, sisik rusak pada menit ke-5 3 11,32
Menit 45 Bergerak normal berada didasar akuarium. -
Menit 60 Ikan berada di aerator. -
Jam 12.00 hari Rabu Bergerombol mendekati aerator -

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan pada salinitas 30 ppt bukaan operculumnya cepat, ikan kehilangan keseimbangan, pingsan, berlendir dan pada menit ke 30 ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan salinitas 3 ppt.

Tabel 15. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 3 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 3 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Pergerakan pasif, didasar Cenderung diem, tdk bergerak, mendekati aerator, bergerombol, tenang didasar, (pergerakan pasif), mungkin penyesuain terhadap lingkungan baru - -
Menit 30 Pergerakan pasif, operkulum bergerak cepat Bergerak aktif, menyebar, bergerak normal - -
Menit 45 Pergerakan pasif, operkulum cepat Menyebar, pergerakan pasif, mengeluarkan feses - -
Menit 60 Feses makin banyak, menyebar, diam didasar Pergerakan normal, banyak feses, didasar - -
Jam 12.00 hari Rabu Diem, dekat aerator, banyak feses, terkadang agresif Banyak feses, pergerakan pasif, terlihat stres karena kotorannya - -
Jam 15.00 hari Rabu Normal dalam pergerakan Normal dalam pergerakannya - -
Jam 08.00 hari Kamis Mengeluarkan banyak feses, gerak pasif Gerak pasif, operkulum lebih cepat bergerak 1 2,74 gr
Jam 12.00 hari Kamis Operkulum cepat, tenang Berkumpul, didasar operkulum bergerak cepat - -
Jam 15.00 hari Kamis Renang pasif, dekat aerator Renang pasif, menyebar - -
Jam 08.00 hari Jumat Gerak aktif, operkulum lama Pergerakan pasif, operkulum lama pergerakannya, - -
Jam 12.00 hari Jumat Cenderung diam Pergerakan pasif, cenderung didasar 1 5,21
Jam 15.00 hari Jumat Normal, agresif Normal, agak egresif - -

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada perlakuan salinitas 3 ppt umumnya ikan cenderung normal dalam tingkah lakunya.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  6 ppt.

Tabel 16. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 6 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium 1

Ikan

Akuarium 2

Ikan

Menit 15 Stabil, ikan mengeluarkan feses Ikan berenang stabil, ikan mengeluarkan feses. - -
Menit 30 Stabil, ikan semakin banyak mengeluarkan feses Ikan bergerak ke dasar permukaan, operkulum beregerak lebih cepat. - -
Menit 45 Stabil, ikan semakin banyak mengeluarkan feses Ikan bergerak didasar permukaan, bukaan mulut lebih cepat. - -
Menit 60 Stabil Ikan bergerak di dasar permukaan, tetap mengeluarkan feses. - -
Jam 12.00 hari Rabu Stabil Berenang lambat - -
Jam 15.00 hari Rabu Stabil Berenang lambat ­­­- -
Jam 08.00 hari Kamis Ikan berenang normal Ikan diam dan berkumpul 1 4,01
Jam 12.00 hari Kamis Ikan bergerak dengan lambat Ikan berenang normal - -
Jam 15.00 hari Kamis Ikan bergerak lambat Ikan berkumpul 1 3,39
Jam 08.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Warna ikan pudar, dan berenang stabil - -
Jam 12.00 hari Jumat Ikan bergerak normal Ikan cenderung diam dan warna tubuh menjadi pudar serta pucat. - -
Jam 15.00 hari Jumat Ikan bergerak normal - -

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 6 ppt ikan bergerak dengan lambat dan warnanya lebih pucat.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  9 ppt.

Tabel 17. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 9 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 9 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Ikan mendekati aerator Ikan berenang dengan tenang
Menit 30 Ikan berenang mendekati aerator & berenang secara aktif Ikan banyak mengeluarkan feses & berenang secara aktif
Menit 45 Ikan tenang Ikan tenang
Menit 60 Ikan berenang di permukaan Aktifitas operkulum lebih ceepat
Jam 12.00 hari Rabu ikan-ikan tenang ikan tenang, aktivitas operkulum meningkat, feses banyak
Jam 15.00 hari Rabu ikan tenang, mati 2 ekor ikan-ikan tenang 2 19,79
Jam 08.00 hari Kamis ikan tenang, sedikit feses ikan tenang dan banyak feses yang keluar
Jam 12.00 hari Kamis ikan tenang ikan-ikan tenang
Jam 15.00 hari Kamis ikan tenang, berenang seperti biasa ikan tenang, banyak feses
Jam 08.00 hari Jumat ikan tenang, feses semakin banyak ikan tenang, feses lebih banyak daripada kontrol
Jam 12.00 hari Jumat ikan tenang, feses banyak ikan tenang, 1 ikan mengalami iritasi (luka pada mata)
Jam 15.00 hari Jumat ikan tenang, feses semakin banyak 1 ikan terkena iritasi (luka pada mata), feses lebih banyak daripada kontrol

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 9 ppt cenderung tenang.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  12 ppt.

Tabel 18. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 12 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 12 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Berenang Normal Ikan Berenang Aktif
Menit 30 Berenang Normal Ikan berenang aktif , frekuensi operculum lebih cepat,

Berenang ke permukaan

Menit 45 Berenang Normal Ikan berenang aktif , frekuensi operculum lebih cepat,

Berenang ke permukaan

Menit 60 Berenang Normal Ikan berenang aktif , frekuensi operculum lebih cepat,

Berenang ke permukaan

Jam 12.00 hari Rabu Berenang Normal Pergerakan operculum lebih cepat, berenang aktif, feses lebih pekat, pergerakannya lambat, berenang normal
Jam 15.00 hari Rabu Berenang Normal operculum iritasi, pergerakannya lambat dan mendekati aerator, sirip rusak
Jam 08.00 hari Kamis Berenang Normal Sirip dorsal rusak, frekuensi operculum rusak, berenang lambat, mengeluarkan mukus, berenang dekat permukaan
Jam 12.00 hari Kamis Berenang Normal berenang lambat(cenderung diam), kulit mengelupas, berenang dekat permukaan
Jam 15.00 hari Kamis Berenang Normal Pergerakan operculum lebih cepat, 2 ikan stress pergerakan pasif, 1 ikan bergerak aktif
Jam 08.00 hari Jumat Berenang Normal Operculum lebih cepat 2 B1 =9,16

B2= 5, 61

Jam 12.00 hari Jumat Berenang Normal Operculum lebih cepat, bergerak pasif
Jam 15.00 hari Jumat Berenang Normal Operculum lebih cepat, bergerak pasif, feses lebih banyak

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 12 ppt kondisinya melemah dengan bukaan operculum yang cepat dan cenderung diam.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  15 ppt.

Tabel 19. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 15 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium 1

Ikan

Akuarium 2

Ikan

Menit 15 ikan beradaptasi, bergerak pasif ikan mendekati aerator, ikan mencari makan
Menit 30 ikan begerak mendekati aerator ikan saling menyerang
Menit 45 ikan mendekati aerator, ikan pasif ikan diam dipojok akuarium, banyak feses
Menit 60 ikan diam sirip dorsal ikan nila tegang
Jam 12.00 hari Rabu ikan aktif berenang, mendekati aerator feses banyak, ikan diam didekat aerator, ikan berkelahi
Jam 15.00 hari Rabu ikan normal ikan nila berenang seperti biasa
Jam 08.00 hari Kamis 2 ikan berenang aktif mendekati aerator, ikan pasif ikan berwarna pucat, berenang aktif
Jam 12.00 hari Kamis 1 ikan berenang mendekati aerator, ikan pasif didasar, 1 ikan diam ditengah akuarium ikan berenang aktif, banyak feses
Jam 15.00 hari Kamis ikan berenang mendekati aerator ikan cenderung mendekati aerator, banyak feses
Jam 08.00 hari Jumat ikan cenderung diam didasar, 1 ikan mati ikan aktif berenang, ikan berkejaran 1 3.9
Jam 12.00 hari Jumat Ikan pasif, 1 ikan mati ikan aktif berenang, ikan berkejaran 1 10.07
Jam 15.00 hari Jumat ikan pasif, tinggal sisa 1 ikan ikan aktif berenang, sisa 3 ekor

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 15 ppt ikan cenderung aktif bergerak dan mengeluarkan banyak feses.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  18 ppt.

Tabel 20. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 18 ppt

Waktu Tingkah laku
Akuarium kontrol Akuarium 18 ppt ∑ Ikan mati Bobot ikan mati
Menit 15 Ikan diam di dasar Ikan diam
Cenderung bergerombol Ikan mendekati permukaan
Menit 30 Banyak feses Belum ada feses
Ikan berenang di bawah permukaan Berkumpul di pojok permukaan
Menit 45 Ikan aktif Operkulum ikan sedikit memerah
Ikan berenang di dasar air Cenderung diam di dasar air
Sedikit berenang di pinggiran aquarium
Menit 60 Ikan berenang di dasar aquarium Ikan masih aktif
Berenang di dasar maupun di permukaan
Jam 12.00 hari Rabu Ikan berenang di aquarium Ikan bergerak mendekati aerasi
Terdapat feses Kadang ke permukaan air
Jam 15.00 hari Rabu Ikan berenang di pojok aquarium Ikan melemah
Masih aktif Sisanya aktif
Jam 08.00 hari Kamis Ikan berenang di pojok aquarium Ikan mati 2 2 9,10 gram
Ikan diam Sisa ikan diam
Ikan melemah
Jam 12.00 hari Kamis Ikan bergerak aktif Ikan diam dekat aerator
Ikan tidak bergerombol Terdapat banyak feses
Ikan jauh dari aerator
Jam 15.00 hari Kamis Ikan cenderung diam Ikan diam di dekat aerator
Ikan tidak bergerombol
Ikan berenang dekat aerator
Ikan berenang di dekat permukaan
Jam 08.00 hari Jumat Ikan diam Ikan diam di dekat aerator
Ikan berenang bergerombol
Jam 12.00 hari Jumat Ikan kurang aktif Ikan kurang aktif
Ikan diam di dasar aquarium Ikan kurang respon
Air lebih keruh Ikan berenang di dekat permukaan air
Gerakan sirip ikan cepat
Jam 15.00 hari Jumat Ikan diam dan beregerombol Ikan diam

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 18 ppt ikan cenderung melemah.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  21 ppt.

Tabel 21. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 21 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium Kontrol

Ikan Nila

Akuarium 21 ppt

Ikan

Menit 15 Ikan cenderung diam Bergerombol, mendekati aerator
Menit 30 Ikan cenderung diam, bergerombol Bergerombol, berenang di permukaan, mulut megap-megap
Menit 45 Ikan berenang di permukaan Mendekati aerator, berenang di dasar
Menit 60 Cenderung diam di dasar Cenderung diam, bergerombol dekat aerator
Jam 12.00 hari Rabu Cenderung diam di dasar, bergerombol, Cenderung diam di dasar, bergerombol
Jam 15.00 hari Rabu Cenderung diam di dasr Cenderung diam, dekat aerator
Jam 08.00 hari Kamis Ikan pasif, operculum bergerak cepat, feses banyak Ikan cenderung diam di pojok, feses banyak, operculum bergerak cepat
Jam 12.00 hari Kamis Cenderung diam, mengeluarkan banyak feses, 1 ekor mati Mengeluarkan banyak feses, cenderung diam 1 9,88
Jam 15.00 hari Kamis Ikan diam di dasar Ikan cenderung diam
Jam 08.00 hari Jumat Cenderung diam di dasar, dekat aerator Ikan cenderung diam
Jam 12.00 hari Jumat Ikan mati 1, cenderung diam Ikan cenderung diam, dekat aerator 1 9,71
Jam 15.00 hari Jumat Ikan bergerombol, cenderung diam Ikan tidak aktif, mulut megap-megap

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 21 ppt ikan cenderung melemah dengan banyak diam dekat aerator.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  24 ppt.

Tabel 22. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 24 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 24 ppt

Ikan Nila

Menit 15 Ikan cenderung diam dan pasif. Bergerak biasa, operculum terbuka lebih lebar, bagian sekitar mata memerah, pectoral bergerak capat, dorsal tidak tegak.
Menit 30 Ikan cenderung dim di dekat aerasi. Ikan pasif, tidak bergerak. Satu diantaranya tegang.
Menit 45 Ikan mulai bergerak ke sisi lain tapi cenderung pasif. Ikan pasif, kadang tegang, kadang berenang ke permukaan dan akhirnya turun.
Menit 60 Ikan masih cenderung pasif. Ikan panik, bergerak menabrak kaca, rahang bawah memerah, ikan bertahan hidup.
Jam 12.00 hari Rabu Ikan banyak diam di daerah aerasi, terkadang diam didasar dnega gerakan operculum lambat Ikan mulai mabok, mata ikan berubah jadi putih, ikan terus bergerak cari permukaan.

Ikan sulit berenang dan diam di dasar, ikan mati semua jam 12.15

3 14,72
Jam 15.00 hari Rabu Ikan berada di aerasi, ikan hanya menggerak-geraka operculum dengan lambat - - -
Jam 08.00 hari Kamis Ikan aktif, bergerombol di dasar - - -
Jam 12.00 hari Kamis Ikan diam di dasar, mendekati aerasi - - -
Jam 15.00 hari Kamis Ikan aktif, terkadang diam didasar. - - -
Jam 08.00 hari Jumat Ikan diam didasar, operculum bergerak lambat - - -
Jam 12.00 hari Jumat Ikan diam di dasar, mendekati aerasi - - -
Jam 15.00 hari Jumat Ikan diam didasar, operculum bergerak lambat - - -

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 24 ppt bukaan operculumnya cepat dan cenderung diam dan mabuk sehingga pada jam 12.00 hari rabu ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  27 ppt.

Tabel 23. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 27 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 27 ppt

Ikan Nila

Menit 15 ikan pasif menuju aerator. Ikan bergerombol ikan di dasar akuarium dan bergerak pasif
Menit 30 ikan saling kejar-kejaran, operculum lebih cepat membuka dan menutup. Ikan berada di bawah permukaan, ikan aktif. ikan diam, operculum lambat
Menit 45 ikan berkejar-kejaran operculum membuka lebih cepat. Ikan pasif diam di dasar dan melemas
Menit 60 ikan aktif dan operculum aktif membuka-menutup operculum membuka lebih cepat, pasif, berada di bawah permukaan.
Jam 12.00 hari Rabu ikan bergerak aktif, mengeluarkan banyak feses 2 ikan mati, 1 ikan bergerak pasif 2 23,78
Jam 15.00 hari Rabu ikan bergerak aktif, mengeluarkan banyak feses 1 ikan mati 1 7,67

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 27 ppt ikan cenderung lemas diam dengan bukaan operculum cepat dan pada jam 15.00 hari rabu ikan sudah mati semua.

Di bawah ini merupakan hasil pengamatan tingkah laku ikan nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan  30 ppt.

Tabel 24. Tingkah Laku Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Salinitas 30 ppt

Waktu Tingkah Laku ∑ Ikan Mati Bobot Ikan Mati
Akuarium kontrol

Ikan Nila

Akuarium 30 ppt

Ikan  Nila

Menit 15 Bergerak normal. Ikan diam didasar. Pergerakan sirip naik turun. Cenderung diam bergerombol. Hiperaktif tiba-tiba diam masih dapat bergerak. Sirip ventral bergerak cepat.
Menit 30 Dorsal tegak. Bergerak normal. Ventral bergerak cepat. Ikan bergerak kepermukaan. Dorsal tidak tegak. Operculum berdarah caudal rusak.
Menit 45 Normal semua sirip bergerak aktif. Mulut menghadap kepermukaan. Bersandar pada dasar akuarium. Ikan kehilangan keseimbangan sehingga berenangya miring dengan posisi operculum berada di permukaan air. Gerak operculum nyaris berhenti bergerak. Badan muncul warna merah pada tiap pangkal sirip.
Menit 60 Ikan Kepermukaan disudut akuarium gerakan ikan agresif, ikan mengeluarkan feses. Ikan berada di dasar akuarium sirip berwarna merah loncat kepermukaan. Operculum jarang bergerak pada menit ke-4.
Jam 12.00 hari Rabu Ada yang mendekati aerator, berenang biasa, mata buta. Mati dengan bobot akhir 3 9,20

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkah laku ikan nila pada salinitas 30 ppt cenderung diam dengan sirip ventral rusak, operculum berdarah lalu ikan kehilangan keseimbangan dan pada jam 12.00 hari rabu ikan sudah mati semua.

3.2 Pembahasan

Salinitas media optimum pada ikan mas adalah 6 ppt. Saat diberi perlakuan salinitas 6 ppt nilai penurunan bobot rata-rata ikan mas sebesar 0,52% atau jauh lebih kecil dibandingkan dengan penurunan bobot rata-rata ikan mas yang diberi perlakuan salinitas lebih dari 6 ppt. Selain itu pada salinitas 6 ppt ikan mas masih bisa bertahan hidup sedangkan pada salinitas di atas 6 ppt tingkat kelangsungan hidupnya sebesar 0%. Ikan mas hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di sungai danau maupun di genangan air lainnya. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang juga ditemukan perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30 ppt (Asmawi 1986). Hasil percobaan berbeda dengan literartur. Hal ini mungkin disebabkan karena ikan yang digunakan masih kecil dan juga kondisi ikan yang sedang tidak baik.

Ikan nila tergolong ikan euryhaline yaitu ikan yang memiliki kisaran yang luas terhadap salinitas. Salinitas yang cocok untuk nila adalah 0-35 ppt, namun salinitas yang memungkinkan nila tumbuh optimal adalah 0-30 ppt. Pada salinitas 31-35 ppt, nila masih bisa hidup, tetapi pertumbuhannya lambat (Kordi 2010).

Pada percobaan, salinitas media optimum ikan nila adalah 21 ppt. Ikan nila dapat bertahan pada salinitas 21 ppt karena ikan ini termasuk ikan yang euryhaline yaitu ikan yang memiliki salinitas yang luas. Saat diberi perlakuan salinitas sebesar 21 ppt tingkat kelangsungan hidupnya sebesar 100% dengan penurunan bobot rata-rata sebesar 2,75% namun saat perlakuan salinitasnya di atas 21 ppt, tingkat kelangsungan hidup ikan nila sebesar 0%. Hal ini tidak sesuai dengan tinjauan pustaka yang didapat bahwa ikan nila dapat hidup hingga salinitas 35 ppt. hal tersebut mungkin disebabkan karena ikan nila yang digunakan kondisinya sudah tidak baik dan umurnya yang masih kecil.

Tingkah laku ikan mas pada perlakuan salinitas 3 ppt dan 6 ppt masih terlihat normal, namun mulai dari salinitas 9 ppt hingga 30 ppt tingkah laku ikan mas mulai tidak biasa hingga menyebabkan ikan mas mati. Hal ini disebabkan karena pada selang salinitas 9 ppt hingga 30 ppt kondisi air atau media kurang bisa ditolerir oleh ikan mas tersebut. Tingkah laku ikan mas pada saat kondisi tersebut, gerakan bukaan operculum ikan mas menjadi lebih cepat lalu ikan menjadi stress dan akhirnya ikan mati. Tingkah laku ikan nila pada perlakuan 3 ppt samapi 21 ppt masih normal dimana ikan masih bisa  bertahan hidup hingga salinitas 21 ppt, namun mulai dari salinitas 24 ppt sampai 30 ppt tingkah laku ikan nila sudah mulai tidak normal dimana ikan nila tersebut mulai melemah dan bukaan operculumnya semakin cepat dan lama kelaman ikan nila tersebut mati. Hal tersebut didukung pernyataan Effendie (2002), bahwa ikan air tawar tidak bisa dipaksakan dipelihara dalam air bersalinitas.

Penurunan bobot rata-rata ikan mas dan ikan nila pada percobaan cukup berfluktuasi. Secara umum terlihat pada grafik bahwa semakin tinggi salinitas maka penurunan bobot juga semakin besar. Hal ini terjadi karena adanya osmoregulasi yang terjadi pada ikan dimana ikan menyeimbangkan tekanan osmotik di dalam dan di luar tubuh ikan. Peningkatan osmolaritas berkaitan dengan mekanisme osmoregulasi yang dilakukan ikan mas dan ikan nila. Pada media dengan tingkat kerja osmotik di luar kisaran isoosmotik, ikan mas dan ikan nila melakukan kerja osmotik untuk keperluan osmoregulasi. Hal tersebut menyebabkan pembelanjaan energi untuk osmoregulasi tinggi sehingga mengurangi porsi energi untuk pertumbuhan (Karim 2007).

Osmolaritas media merupakan penentu tingkat kerja osmotik yang dialami oleh ikan. Osmolaritas media makin besar dengan peningkatan salinitas, hal tersebut disebabkan peningkatan konsentrasi ion-ion terlarut. Sifat osmotik dari media bergantung pada seluruh ion yang terlarut di dalam media tersebut.  Dengan semakin besarnya jumlah ion terlarut di dalam media. tingkat kepekaan osmolaritas larutan akan semakin tinggi pula. sehingga akan menyebabkan makin bertambah besarnya tekanan osmotik media. Demikian pula halnya dengan osmolaritas hemolimfe (cairan tubuh) ikan mas dan ikan nila yang meningkat secara linier dengan peningkatan salinitas media. Ikan nila termasuk organisme akuatik euryhaline yang memiliki kemampuan untuk menjaga lingkungan internalnya dengan cara mengatur osmolaritas (kandungan garam dan air) pada cairan internalnya. Dengan demikian ikan nila akan bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya apabila berada pada media bersalinitas rendah dan hipoosmotik pada media bersalinitas tinggi (Karim 2007).

Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Ikan mas adalah salah satu jenis ikan peliharaan yang penting sejak dahulu hingga sekarang. Ikan mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang, agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (babels), ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata 1983). Ikan mas dikenal sebagai ikan pemakan segala (omnivora) antara lain memakan serangga kecil, siput cacing, sampah dapur, potongan ikan, dan lain-lain (Asmawi1986).

Klasifikasi Ikan Mas menurut Saanin (1984), yaitu:

Filum         : Chodata

Kelas         : Pisces

Sub kelas   : Teleostei

Ordo          : Ostariophysi

Sub ordo    : Cyprinoidea

Famili        : Cyprinidea

Genus        : Cyprinus

Spesies       : Cyprinus caprio L.

Daerah yang sesuai untuk mengusahakan pemeliharaan ikan ini yaitu daerah yang berada antara 150 – 600 meter di atas permukaan laut, pH perairan berkisar antara 7-8 dan suhu optimum 20-25 oC. Ikan mas hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus air yang tidak deras, baik di sungai danau maupun di genangan air lainnya (Asmawi 1986). Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang juga ditemukan perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%o.

Klasifikasi ikan nila berdasarkan Dr. Trewavas (1982) dalam Widyanti (2009) adalah sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Sub-filum        : Vertebrata

Kelas               : Osteichtyes

Sub-kelas         : Acanthoptherigii

Ordo                : Percomorphi

Sub-ordo         : Percoidea

Famili              : Cichlidae

Genus              : Oreochromis

Spesies            : Oreochromis niloticus

Ikan Nila merupakan ikan air tawar yang memiliki bentuk tubuh agak memanjang dan pipih ke samping, warnanya putih kehitam-hitaman, dan makin ke bagian perut makin terang. Pada bagian perut terdapat sepuluh buah garis vertical berwarna hijau kebiru-biruan, sedangkan pada sirip ekor terdapat delapan buah garis melintang yang ujungnya berwarna kemerah-merahan. Mata ikan Nila tampak menonjol agak besar dan di pinggirnya berwarna hijau kebiru-biruan. Mulut terminal, linea literalis terputus menjadi dua bagian, dan bentuk sirip stenoit. Dari kebiasaan makannya, ikan Nila termasuk ikan omnivora, yaitu pemakan segala.

Habitat nila adalah perairan tawar, seperti sungai, danau, waduk, dan rawa-rawa, tetapi karena toleransinya yang luas terhadap salinitas (euryhaline), dapat pula hidup dengan baik di air payau dan laut. Salinitas yang cocok adalah 0-35 ppt, namun salinitas yang memungkinkan untuk tumbuh optimal adalah 0-30 ppt. pada salinitas 31-35 ppt, nila masih hidup namun pertumbuhannya lambat (Widyanti 2009).

IV. KESIMPULAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa salinitas optimum bagi pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio) adalah sebesar 6 ppt. Sedangkan pada ikan nila (Oreochromis niloticu)s salinitas optimum bagi pertumbuhannya adalah sebesar 21 ppt.

4.2 Saran

Sebaiknya perbedaan perlakuan salinitas lebih kecil lagi selang salinitasnya, sehingga dapat diketahui dengan tepat salinitas optimum pada suatu organisme akuatik.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi R dan Tang U.M. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru : Unri Press.

Effendi, Hefni. 2002. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius K, M. Ghufran H. Kordi. 2010. Panduan Lengkap Memelihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Lyli Publisher, Yogyakarta.

Karim, M. Yusri. 2007. The Effect of Osmotic at Various Medium Salinity on Vitality of Female Mud Crab (Scylla olivacea). Vol. 14 No. 1. Th. 2007

Trewavas, E. 1982. Tilapias : Taxonomy and Specification. P. 3-143. In R.S.V. Pullin and R.H. Lowe-McConell(eds.)The Biology and Culture of Tilapias. ICLARM Conference Proceeding. Philippines

Widyanti, Widy. 2009. Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Oreochromis niloticus Yang Diberi Berbagai Dosis Enzim Cairan Rumen pada Pakan Berbasis Daun Lamtorogung Leucaena leucocephala. [Skripsi]. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.


LAMPIRAN

Contoh perhitungan SR pada tabel 2, salinitas 3 ppt

Contoh perhitungan PBR pada tabel 2, salinitas 3

%

Comments are closed.